Pilpres, PBB Pecah Haluan

  • Whatsapp

Banyak Caleg Berlawanan dengan DPP

Kabarmadura.id/SAMPANG-Manuver politik elit Partai Bulan Bintang (PBB) di Jakarta, berdampak terhadap dukungan di Dewan Pengurus Cabang (DPC) PBB Sampang. Sebab, setelah DPP PBB menjatuhkan dukungan kepada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, justru mengakibatkan dualisme dukungan di Sampang.

Ketua DPC PBB Kabupaten Sampang Moh. Sirah saat dikonfirmasi membenarkan adanya dualisme dukungan pada Pilpres 2019 ini. Bahkan sejumlah kader PBB di Sampang lebih condong memberikan dukungan kepada paslon nomor urut 2, yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

“Ada perbedaan dukungan yang diberikam oleh kader yang ada di Kabupaten Sampang dengan dewan syuro sendiri,” katanya.

Namun, sampai saat ini pihaknya masih menunggu keputusan bersama. Pasalnya, pasca penetapan dukungan kepada paslon nomor 1, masih ada sinyal tertentu dari dewan syuro untuk membentuk barisan Prabowo Sandi Bulan Bintang (Paslantang).

Alhasil, adanya dua pilihan yang kini tetap dipertahankan, maka jelas ada kecenderungan berpengaruh terhadap elektabilitas caleg yang bertarung di tingkat bawah. Perbedaan pilihan dan dukungan antara pilpres dan pileg saat ini, membuat banyak caleg yang cari aman dengan tetap mengedepankan hasratnya untuk menuju kursi parlemen.

“Itu karena adanya sejumlah caleg yang enggan memberikan suaranya untuk paslon nomor urut 1 dengan alasan suara di bawah, maka kami masih akan melakukan koordinasi kembali dengan DPW PBB Jawa Timur atas putusan caleg yang bersangkutan,” tambahnya.

“Secara kepengurusan mengikuti DPP PPB, cuma karena ada sejumlah caleg yang mengajukan permohonan dukungan kepada paslon nomor urut 2 maka langkah musyawarah di tingkat DPC akan kami tempuh,” timpalnya.

Menurutnya, kemungkinan besar sejumlah caleg yang melakukan kolaborasi dengan nomor urut 2, tidak akan menggunakan atribut dan embel-embel partai, pasalnya informasi yang ada, mayoritas dukungan di Madura adalah kepada paslon Prabowo Sandi.

“Hal ini jelas tidak bisa kami cegah karena sebagian besar dukungannya juga dari suara Prabowo, sehingga kami juga mengikuti keadaan, karena kalau dipaksakan maka akan berimbas pada dukungan dari suara masyarakat itu langsung, dan ini kami hindari,” imbuhnya.

“Artinya kami tetap harus arif dalam menentukan sikap yang berhubungan dengan kearifal lokal dan hasil koordinasi yang dilakukan tingkat bawah,” tandasnya. (awe/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *