Pj Bupati Kecewa, Kocok Ulang Penyewa Pasar Margalela

  • Whatsapp
MERADANG: Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto menunjukkan raut kecewa kepada pengelola pasar Margalela saat melakukan inspeksi Mendadak (Sidak), kemarin.

Kabarmadura.id – Penjabat (Pj) Bupati Sampang Jonathan Judianto memperlihatkan kekecewaannya saat mengetahui kondisi Pasar Margalela yang berlokasi di Jalan Syamsul Arifin, Kelurahan Polagan, kemarin. Sebab, puluhan kios dan lapak pasar diketahui tidak dimanfaatkan oleh pedagang. Itu artinya, baik kios maupun lapak dibiarkan mubazir selama pasar dioperasikan.

“Saya kecewa karena pasar Margalela tidak kunjung ditempati. Sehingga, tidak sepenuhnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sampang. Makanya kami dorong Disperdagprin agar pedagang yang sudah dapat lokasi di pasar bisa memanfaatkan untuk berjualan. Tadi saya lihat masih kosong,” ujar Jonathan.

Tidak sampai di situ, orang nomor satu dilingkungan Pemkab Sampang tersebut juga mengaku heran dengan surat izin penempatan yang baru dikeluarkan pada 17 September. Padahal, pengundian los pasar sudah dilakukan pada bulan Mei lalu.

“Kan lama. Ternyata para pedagang tidak sama mengurusnya. Tapi, yang terpenting bagi saya yaitu pasar bisa dimanfaatkan sepenuhnya. Mungkin awalnya sepi, tapi lama kelamaan kalau masyarakat sudah tahu pasarnya buka, kan berdatangan,” tegas Pak Jo, sapaan Jonathan Judianto.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagprin) Sampang Wahyu Prihartono menerangkan, sidak yang dilakukan Pj Bupati bersifat mendorong agar pasar Margalela segera ditempati dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh para pedagang yang sudah melakukan pengundian tepat pada Mei 2018 lalu.

“Yang jelas untuk menempati harus ada izin penempatan sesuai Perda Nomor 5 Tahun 2011. Isinya adalah apabila izin sudah keluar dan tiga bulan berturut-turut belum juga ditempati, maka akan ditarik kembali,” katanya.

Tidak ingin disudutkan, Wahyu mengaku telah melayangkan surat teguran pertama bagi pedagang yang sudah mengurus dan surat izin penempatannya sudah keluar. Hanya saja menurutnya, pedagang tidak bersamaan saat mengurus surat izin penampatannya.

“Ini tugas kita mengingatkan mereka (pedagang,red). Alasan para pedagang tak kunjung menempati karena pasar Margalela tak kunjung ramai seperti pasar lainnya. Padahal itu tidak bisa karena untuk pasar yang baru harus bertahap,” tambahnya.

Untuk diketahui, tercatat  285 pedagang telah mengurus izin penempatan dari total sebanyak 330 pedagang yang ada di pasar Margalela. Pembangunannya menghabiskan dana Rp14 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) TA 2016

Sementara itu, pasar dimaksud baru dioperasikan beberapa bulan lalu. Dalam artian, selama kurun waktu 2017 sama sekali tidak dimanfaatkan. (awe/sam/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *