PKB dan PDIP Sumenep Mulai Geber Strategi Pemenangan

  • Whatsapp
KM/Ilustrasi

Kabarmadura.id/SUMENEP-Penundaan pemilihan kepala daerah (pilkada) hingga Desember 2020, memberi keuntungan bagi sejumlah partai politik (parpol). Setidaknya, mereka memiliki waktu lebih lama untuk menata strategi. Sebab,  ancang-ancang sebelumnya, strategi itu digunakan untuk pilkada yang seharusnya digelar pada Oktober.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah yang berani terang-terangan bahwa sudah meramu taktik.

Bacaan Lainnya

Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu (LPP) DPC PKB Sumenep KH MK Ersyad mengaku sudah siap menjalankan kompetisi plikada. Bahkan, menurutnya diselenggarakan kapan pun saja, tidak berpengaruh terhadap calon yang diusungnya.

Sejauh ini, PKB sudah melaksnakan dengan jalan konsolidasi, yakni penataan keorganisasian di internalnya. Bahkan, LPP DPC PKB Sumenep sudah membuat konsep strategi untuk melaui pengkajian peta kekuatan dan peta wilayah pemenangan.

“Semua tatanan organisasi PKB baik dari DPP hingga DPC sudah siap memenangkan (calon bupati, red) PKB,” katanya Senin (1/6/2020).

Bahkan, saat pelaksanaan pilkada sempat ditangguhkan, PKB tidak ikut fakum. Persiapan terus, meskipun tetap patuh terhadap protokol kesehatan.

“Konsolidasi tetap jalan. Tetapi, pertemuan yang mengumpulkan massa dalam jumlah besar, dikendalikan,” ujar dia.

Kendati sudah sesumbar dengan jurus jitunya, rupanya PKB belum terang-terangan dengan rekomendasi siapa yang pasti diusung sebagai calon bupati. Kata Ersyad, hal itu belum dilakukan.

Bahkan arahnya juga belum dipastikan jatuh kepada Fattah Jasin, bakal calon yang selama ini mulai cukup intens mendekati PKB.

“Untuk koalisi partai juga masih belum dilakukan. Tetapi, kami optimis PKB pasti menang,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris DPC PDIP Sumenep Abrari. Sebagai partai yang pasti mengusung Ahmad Fauzi sebagai calon bupati (cabup), sudah memastikan menyandingkannya dengan Nyai Hj Dewi Khalifah (cawabup). Namun masih menguatkan rukun iman politiknya.

Rukun iman politik yang dimaksud, adalah koalisinya. Sebab, PDIP yang hanya memiliki 5 kursi, tidak bisa maju sendiri, harus bergandengan dengan partai lain (koalisi). Sejauh ini, terdapat  3 partai yang diklaim siap koalisi.

Sayangnya, pria yang akrab disapa Abe ini enggan menyebut siapa partai pendukung PDIP tersebut.

“Dukungan sudah ada. Tetapi, karena DPP PDIP masih menginstruksikan untuk tidak disampaikan. Jadi kami DPC belum berani menyampaikan,” ucapnya.

Namun, kata Abe, rukun iman politik berupa pemenuhan minimal 20 persen dari total suara di parlemen untuk bisa megusung calon bupati, diklaim sudah terpenuhi.

Penguatan mesin partai juga diakui sudah cukup prima, termasuk penguatan relasi ekstra partai yang berkoalisi. Bahkan, penegasan tentang jaringan di kultural dan jaringan di struktural sudah dilaksanakan.

Salah satunya mengunjungi tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh dan berperan dalam pemenagan di pilkada. Misalnya, melaksanakan bakti sosial, bahkan saat ini masih berlangsung secara bertahap di internal partai, namun tetap menggunakan metode multilevel marketing politik.

“Jadi, kami sudah siap memenangkan cabup dan cawabup yang sudah direkomendasikan,” ujarnya.

Mengenai pelaksanaan pilkada, Abe mengaku siap kapan saja. Bahkan, jika dilaksanakan di akhir 2020, sangat menguntungkan bagi PDIP.

“Jika pilkada selalu tertunda maka para calon akan kehilangan momentumnya,” pungkasnya. (imd/waw)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *