PKM Unira Manfaatkan Biogas untuk Tekan Biaya Produksi Batik

  • Whatsapp
INOVATIF: Tim PKM Universitas Madura menyerahkan program secara simbolis kepada mitra UMKM Batik di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN -Wabah Covid-19 menimbulkan pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat global, khususnya bagi pengrajin batik di Pamekasan. Kondisi itu menarik perhatian sejumlah kalangan, termasuk akademisi dari perguruan tinggi.

Kondisi yang juga mengakibatkan pendapatan pengrajin dan pedagang batik menurun drastis itu, menarik perhatian akademisi di lingkungan Universitas Madura (Unira) untuk ikut berperan menekan persoalan ekonomi pengrajin dan pedagang batik akibat wabah Covid-19.

Bacaan Lainnya

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Madura (Unira) Sandy Vikki Ariyanto mengatakan, kondisi yang demikian harus mendapatkan perhatian dari semua elemen, baik dari pemerintah maupun dari akademisi. Hal itu sebagai respon atas kondisi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Lanjut dia, sudah selayaknya akademisi sebagai bagian dari masyarakat, hadir memberikan sentuhan dan solusi konkret bagi pelaku UMKM batik di Pamekasan, khususnya di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan yang mendapatkan dampak langsung dari wabah Covid-19.

Hal itu ungkap dia, menjadi dasar pemikiran dosen Unira dalam mengupayakan peningkatan produksi  dan modernisasi pemasaran batik yang masih konvensional.

“Melalui program pengabdian kepada masyarakat, Dosen Unira ingin fokus membantu masyarakat menekan biaya produksi dan meningkatkan omzet UMKM dengan berbagai inovasi,” terangnya, Rabu (24/11/2021).

Sandy mengungkapkan, salah satu inovasi untuk menekan biaya produksi batik dengan biogas. Dijelaskannya, pengolahan limbah sapi menjadi biogas untuk proses produksi pemasakan malan yang digunakan untuk membatik. Hal itu untuk menekan biaya produksi batik menjadi lebih efisien, ramah lingkungan, dan ampas dari kotoran sapi yang dijadikan bahan biogas juga dapat dijadikan pupuk untuk kebutuhan pertanian.

Sementara untuk meningkatkan pendapatan pelaku UMKM batik, pihaknya melakukan perbaikan sistem marketing dan manajerial. Dirinya menjelaskan, optimalisasi strategi peningkatan UMKM batik dengan biogas dan perbaikan sistem marketing itu, bertujuan untuk meningkatkan penjualan UMKM batik yang awal mulanya memakai sistem konvensional.

“Selain metode pengolahan limbah menjadi biogas, tim PKM juga melaksanakan beberapa pelatihan, di antaranya tentang pembukuan keuangan, pengembangan sistem marketing dari hasil produksi batik tulis dengan sistem digital marketing,” tutupnya.

Reporter: Miftahul Arifin

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *