oleh

PMII dan Pembebasan Umat Perspektif Ilmu Dakwah

Oleh: Muhammad Ahnu Idris*

Sudah maklum bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi ekstra kampus yang lahir dari jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) (Ali dalam Nugraha, 2017: xxiii). Dengan kata lain, PMII merupakan kepanjangan tangan perjuangan NU dalam menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di kalangan mahasiswa. Hal ini bertujuan agar nilai-nilai tersebut menjadi sprit gerakan dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa.

Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berhaluan Aswaja, PMII harus terus menegaskan eksistensi dan kontribusinya terhadap negara dan bangsa (Iskandar dalam Nugraha, 2017: xxvii).

Dalam Anggaran Dasar Bab IV Pasal 4 tentang tujuan didirikannya PMII disebutkan bahwa, organisasi ini bertujuan membentuk pribadi muslim yang bertakwa, berakhlak, cakap dan bertanggung jawab dalam mengimplementasikan ilmunya serta memiliki komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan bangsa. Di pasal selanjutnya dijelaskan, bahwa organisasi ini dalam setiap programnya harus berorientasi pada terwujudnya insan ulu al-albâb.

Ulu al-albâb merupakan idhâfah yang terdiri dari kata ulȗ atau ulî. Kata ini bermakna yang memiliki, dan al-albâb sebagai bentuk jamak dari kata lub yang bermakna bagian penting dari sesuatu (Qudratulloh, 2016: 19).

Ketika menjelaskan kata lub, Imam Ghazali mengumpamakannya seperti buah kelapa. Hati manusia ibarat buah kelapa yang memiliki beberapa bagian. Kulit atau sabut yang ada di bagian terluar kelapa dinamakan qiysr; lapisan kedua ialah batok kelapa atau tempurung yang disebut qisyr al-qiysr; dan bagian ketiga ialah daging kelapa atau inti kelapa yang disebut lub. Hati merupakan satu-satunya perangkat manusia yang biasa digunakan untuk mengenal Allah. Karenanya, Allah menyebutkan bahwa hanya orang yang mengenali lub-nya yang bisamemahami ayat-Nya, karena lub tidak akan dikenali apabila hatinya “padam” atau “gelap” (Qudrotulloh S., 2016: 19).

Baharudin memaparkan, kata albâb berasal dari kata lam-ba-ba yang membentuk kata allubb. Kata ini memiliki arti otak atau fikiran (intelek). Tapi, albab dalam pengertian ini tidak mengandung arti otak atau fikiran banyak orang, melainkan hanya beberapa orang saja. Dengan demikian, ulu al-albâb berarti orang yang memiliki kecerdasan tinggi sekaligus memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya (Aziz, 2006: 3).

Ulu al-albâb digunakan oleh Alquran untuk menyebut sekelompok manusia intelektual. Istilah ini dalam Alquran diulangi sebanyak 16 kali. Meski demikian, Alquran tidak menjelaskan difinisinya secara detail. Inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan para ahli tafsir Alquran dalam menginterpretasikan istilah ulu al-albâb (Herawati, 2015: 126).

Pengertian yang dikemukan oleh para ahli tafsir, –dalam konteks ini– menurut penilaian penulis, karakteristik ulu al-albâb yang dikemukakan oleh Ibn Mundzir, sangatlah tepat. Menurut Ibn Mundzir (dalam Herawati, 2015: 126) ulu al-albâb ialah pribadi yang bertakwa, memiliki pengetahuan tinggi dan mampu menyesuaikan diri di segala lapisan masyarakat, elit maupun marjinal.

Berdasarkan karakteristik ulu al-albâb, yang dimaksudkan definisi tersebut ialah, pribadi ini tidak hanya menyibukkan dirinya dengan ritual keagamaan semata. Lebih dari itu, pribadi ulu al-albâb juga dituntut berkontribusi memperjuangkan keadilan dan menanggulangi kesenjangan yang dihadapi oleh umat (Herawati, 2015: 126).

Dalam surah Ali Imran (3) ayat 7, ulu al-albâb memiliki arti sekelompok manusia yang mempelajari sejarah berbagai bangsa, kemudian disimpulkannya satu pelajaran, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan ini (Herawati, 2015: 128).

Allah dalam Alquran tidak menginginkan terjadinya kesenjangan sebagaimana firmannya: “Apa saja harta rampasan (perang) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Ayat ini mendorong agar setiap muslim memiliki rasa kepedulian tinggi dan membantu saudara-saudaranya yang sedang menghadapi masalah, membantu mereka keluar dari masalah yang sedang dihadapi, serta menjaga mereka dari segala bentuk ancaman (Sagir, 215: 19).

Tahun 1991, Gus Dur (dalam Alawi) mengatakan, memperjuangkan kesejahteraan ekonomi warga miskin NU sama halnya menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia, karena sekitar 75 persen warga miskin Indonesia adalah warga NU (Alawi, 2018). Ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang dilahirkan oleh NU.

Pembebasan umat, meliputi semua persoalan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok (basic needs) manusia, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan fisik material ekonomis, maka upaya pembebasan umat lebih menekankan pada pengembangan kehidupan dan penghidupan umat yang bertujuan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam (Sagir, 2015: 20).

Meski demikian, membebaskan umat dari berbagai keterpurukan, tidak semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhan fisik saja. Lebih dari itu, upaya ini juga bertujuan agar masyarakat dapat menjalankan perintah agama dengan khusyuk. Hal ini dikarenakan dalam hirarki kebutuhan manusia, kebutuhan fisik menempati urutan teratas. Manusia akan termotivasi memenuhi kebutuhan lainnya –semisal kebutuhan agama– jika kebutuhan fisik sudah terpenuhi. (Mahfudh, 2004: 106).

Memperjuangkan kesejahteraan umat, tidak cukup hanya dengan memberikan motivasi kepada umat agar mereka bangkit dari keterpurukan. Dalam hal ini PMII juga dituntut untuk mengupayakan sebuah aksi nyata. Aksi nyata ini dalam dunia dakwah dikenal dengan istilah da’wah bi al-hâl, yakni sebuah metode dakwah yang bertujuan membebaskan umat dari segala bentuk keterpurukan melalui basic need approach (pendekatan kebutuhan dasar) supaya mereka dapat merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat (Mahfudh, 2004: 127-128). Hal ini tidak berarti para kader PMII datang kepada masyarakat dan memberikan apa yang mereka butuhkan. Akan tetapi, menurut KH. Sahal Mahfudh (2004: 128-129), masyarakat harus diberi “kail” dan menjelaskan kepada mereka bagaimana cara menggunakan kail tersebut sehingga dapat menghasilkan “ikan”. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak menjadi pribadi dependen yang hanya berpangku tangan dan menunggu orang lain memberikan “ikan” kepadanya.

Dakwah pembebasan merupakan pemahaman teologi yang progresif dan terus menerus atas dasar komitmen kemanusiaan dan keberimanan yang selalu hidup. Oleh karena itu metode dakwah ini sesungguhnya adalah praksis pembebasan dari belenggu ekonomi, sosial, politik, dan dari sistem masyarakat yang mengingkari kemanusiaan dan dari dosa yang merusak hubungan manusia dengan Allah (Jaya, 2012: 165).

Akhir-akhir ini, republik ini dihadapkan dengan persoalan yang sangat kompleks, persoalan yang menjadi target penyelesaian adalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan persoalan lainnya. Dengan keadaan bangsa yang memprihatinkan tersebut, bukan hanya pihak tertentu saja yang memikirkan dan mempertanggungjawabkannya, tetapi semua perlu terlibat dalam menyelesaikan masalah (problem solving) untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, mencari jalan keluar dari keterpurukan dan memberikan masukan atau petunjuk kepada segenap elemen bangsa merupakan bagian dari terminologi dan hakikat dakwah dan ibadah menurut agama Islam (Lestiana, 2013: 69).

PMII sebagai salah satu komponen yang menjunjung nilai-nilai humanisme, seyogianya memiliki peran dalam upaya memperbaiki bangsa dari keterpurukan dengan sebuah konsep dakwah dan sosok dai yang dapat mendobrak kebekuan cara berpikir umat, membuka paham yang berlebihan terhadap kelompok sendiri, dan dapat membebaskan bangsa dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan (Lestiana, 2013: 32).

Dalam rangka pembebasan umat, PMII dapat menggandeng pihak-pihak terkait agar turut serta dalam upayanya tersebut. Akan tetapi, sebelum melakukan aksi, PMII harus memetakan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Data hasil pemetaan ini nantinya akan menjadi acuan dalam mencari jalan keluar (Aziz, 2016: 379-380). Misalnya: permasalahan yang dihadapi masyarakat adalah kemiskinan, maka PMII harus mengetahui penyebab kemiskinan tersebut; jika masalah yang dihadapi adalah kebodohan, maka PMII harus mengetahui faktor penyebab kebodohan tersebut.

Untuk mempermudah membebaskan masyarakat dari keterpurukannya, PMII dituntut mengetahui dan memahami sebab-sebab perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Menurut penganut mazhab Weberianisme, perubahan sosial disebabkan oleh ide, pandangan dunia, dan nilai-nilai. Max Weber sebagai tokoh mazhab ini menekankan betapa ide sangat berpengaruh terhadap suatu masyarakat. Tesis Weberian ini sesuai dengan penggunaan idiom-idiom yang dipilih oleh Alquran. Sebagai contoh, kata takwa merupakan idiom yang sudah ada pada masyarakat Arab sejak sebelum Islam diturunkan. Pada waktu itu, kata ini hanya bermakna takut. Tetapi, setelah Alquran datang, kata takwa oleh Allah diberi makna yang lebih luas. Hal ini menunjukkan Alquran melakukan perubahan sosial melalui ide. Perhatian Alquran terhadap perubahan ide memang sangat besar. Bahkan, Allah memperingatkan agar umat Islam tidak mudah terpengaruh oleh ide yang datang dari luar Islam (Hardy dalam Aziz et.al, 2009: 27).

Di lain pihak, ada sebuah teori yang menyatakan bahwa perubahan sosial disebabkan oleh great individuals (tokoh-tokoh besar). Salah satu pengikut teori ini adalah Thomas Carlyle. Carlyle pernah mengatakan: “Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar.” Artinya, perubahan sosial terjadi karena kemunculan tokoh-tokoh besar ini yang kemudian menarik simpati para pengikutnya (Hardy dalam Aziz et.al, 2009: 27-28).

Faktor lain yang dapat menyebabkan perubahan sosial ialah social movement (gerakan sosial). Dalam konteks ini, PMII juga termasuk pada gerakan sosial. Berbagai gerakan sosial di luar negeri telah terbukti dapat menimbulkan gerakan perubahan sosial (Hardy dalam Aziz et.al, 2009: 28). Fakta ini seharusnya menjadi pelecut semangat bagi PMII dalam rangka memanivestasikan ajaran Aswaja di Indonesia sehingga ketimpangan sosial dapat diminimalisasi.

* Dosen Dakwah dan Anggota IKA-PMII STAI-MU Pamekasan.

Komentar

News Feed