PN Sumenep Tunggu Saksi untuk Menetapkan Tersangka Kasus Beras Oplosan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) LAMBAN : Pengadilan Negeri (PN) Sumenep masih menunggu keterangan saksi kasus beras oplosan untuk menetapkan status tersangka.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Pengusutan kasus beras oplosan yang terjadi di Gudang  Yudhatama Art, hingga saat ini belum menemukan titik terang. Realitasnya, penentuan sikap terhadap terduga kasus beras oplosan yakni Latifa, Warga Pamolokan,  sebagai pemilik gudang belum jelas. Padahal, pelimpahan berkas kasus ke Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Sumenep, dilakukan beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 23 September 2020.

Humas PN Sumenep Firdaus mengatakan, jaksa penuntut umum masih mendatangkan saksi. Sehingga belum ada putusan dan proses pembuktian. Selain itu, majelis hakim akan memberikan kesempatan kepada terdakwa. Setelah proses pembuktian, maka dilanjutkan ke  tuntutan, pembelaan dan tanggapan.

Bacaan Lainnya

“Penuntut umum masih menghadirkan saksi di persidangan untuk mengambil keterangan nya. Proses ini masih lama, biasanya minimal hingga 5 bulan dari penerimaan berkas ke PN,” paparnya.

Menurutnya, waktu lima bulan tersebut dapat diperpanjang oleh PN. Hal itu bisa terjadi, manakala prosesnya masih ada beberapa yang harus diselesaikan. Pengajuan perpanjangan dilakukan PN  ke Kejaksaan Tinggi (Kejati). ”Intinya, proses persidangan akan tetap berlanjut di PN,” tegasnya.

Kasubbag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti mengatakan, tersangka berpotensi dijerat Pasal 62 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999, tentang Perlindungan Konsumen, kemudian Pasal 139 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Pasal 106 UU 7 2014 tentang Perdagangan.

Polres juga telah menetapkan Latifa,sebagai tersangka sekaligus pemilik Gudang Yudhatama Art. Selain itu, Latifa mengajukan praperadilan saat dirinya masih berstatus tersangka. Akan tetapi, upaya tersangka Latifa ditolak oleh majelis hakim PN. Sehingga penetapan status tersangka sah secara hukum.

Bahkan, Latifa sempat ditahan selama kurang lebih dua bulan.   Hanya saja, kembali dibebaskan  lantaran berkas yang tidak lengkap.  Saat ini tinggal menunggu perkembangan berikutnya. “Berdasarkan hasil fakta penyidikan, beras oplosan tersebut diperoleh dari kemasan Bulog dari Sidoarjo, kemudian dilakukan pencampuran dengan beras lokal atau petani,” ujarnya.

Setelah itu, beras tersebut disemprot dengan cairan pandan untuk membuat harum, kemudian dilakukan pengisian dan dikemas. Dari hasil penyelidikan, jelas penipuan. Menurutnya, kasus beras oplosan di Gudang UD Yudatama Art hanya difokuskan pada satu tersangka, yakni, Latifa. (imd/ito)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *