Politik Bahasa Ibu

Sastra155 views

Sejak abad ke-17 hingga abad ke-19,  politik bahasa pemerintah kolonial begitu superior. Ini menjadi musabab terjadinya polemik dalam lingkaran kekuasaan Belanda. Sikap pemerintah Hindia berbeda dengan gaya imperialisme Portugis, Spanyol, Inggris, dan Prancis yang memaksakan bahasa mereka di tanah jajahan. Persoalan ini dijelaskan dalam Bahasa Melayu Indis: Politik Bahasa Kolonial Belanda Sampai 1901 karya John Hoffman. Buku tersebut merupakan riwayat muasal kelahiran bahasa Melayu dari rahim Hindia-Belanda.

Buku ini menjelaskan bahwa pada politik pertamanya, bahasa Melayu telah mencapai titik di mana ia telah merasuk sebagai identitas nasional bagi Hindia-Belanda. Pemerintah kolonial membatasi penggunaan bahasa Belanda di kalangan pribumi. Para pendukung gagasan demikian menunjukkan sikap pejabat Belanda abad ke-19 yang memaksakan percakapan dengan rekan birokrat pribumi menggunakan bahasa dientsmaleisch (Melayu rendah) dan brabbel-Maleisch (Melayu pasar).

Bab “Intermezo Berupa Bahasa Jawa” merekam informasi yang menyebutkan bahwa J.F.C. Gerick mendirikan Surakarta Institute sejak 1832 sebagai wadah bagi para pejabat mudanya untuk belajar bahasa Jawa. Tetapi upaya ini kurang berhasil. Mereka justru berbicara dalam bahasa Melayu pasar.

Selain bahasa Jawa, orang-orang Hindia-Belanda juga mulai mengadopsi bahasa Arab yang dipengaruhi orang-orang Arab di Malaka. Hal ini menyebabkan bahasa Melayu banyak mengalami kehilangan ciri khasnya. Mau tak mau, pemerintah kolonial harus menambah kosakata yang selama ini cuma mereka kenal dari Leydekker Werndly dan kamus Melayu-Belanda yang telah menjadi standar sejak era VOC.

Baca Juga:  Mencari Presiden Antikorupsi

Sementara itu, Roorda van Eysinga gagal menciptakan kamus bahasa Melayu-Belanda selama dinas kedua di Hindia (1843-1848). Lalu ia menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu Bintang Oetara di Belanda. Sayang, bahasa tersebut tidak memenuhi syarat keterbacaan objek sasarannya. Selain Bintang Oetara, ada juga Soerat Kabar Bahasa Melaijoe dan Bintang Timoer. Keduanya beredar pertama kali di Surabaya. Selain digunakan dalam surat kabar, bahasa Melayu rendah juga menjadi “Melayu barak”, sebab ia dikuasai para perwira angkatan laut Belanda di bawah silabus 1889.

Menjelang penutup abad ke-19, Snouck Hurgronje merekomendasikan pemerintah kolonial untuk mengalihkan aksara dalam teks Melayu ke aksara barat. Empat bulan kemudian, ia hendak menyusun ejaan, alih-alih menerbitkan daftar kata-kata. Hurgronje memberi saran untuk menerapkan ejaan Barat Charles Adriaan van Ophuijsen.

Dalam mempersiapkan data untuk membentuk sistem ejaan bahasa Melayu dalam aksara latin, van Ophuijsen melancong ke wilayah-wilayah berbahasa Melayu. Ia mampu menunjukkan sumber terbaik yang mampu membenahi bahasa Melayu. Wilayah tersebut terletak jauh di luar pusat negara kolonial Jawa, bahkan sebagian berlokasi di luar Hindia-Belanda. Proyek itu menghasilkan kebijakan berupa surat edaran yang mengharuskan para pengajar bahasa Melayu dalam sistem pendidikan pribumi menggunakan standar ejaan van Ophuijsen.

Baca Juga:  Bang Topa Mengaku Imam Mahdi

Terakhir, Hoffman mencatat bahwa pada 1901, pengunaan bahasa Melayu pasar merosot. Bahasa Melayu Hindia yang pada mulanya hanya digunakan untuk melayani kepentingan kolonial, dalam dua dekade berikutnya justru berperan sentral pada gerakan terstruktur di kalangan bumiputera yang mendeklarasikan diri sebagai “orang Indonesia”.

Karya Hoffman memajankan wawasan tentang mode komunikasi bernama bahasa ibu yang ternyata tak jatuh dari langit. Ia bergulir melalui tangan sejarah, siasat, dan politik identitas. Bahasa Melayu Indis adalah biografi ringkas bahasa Indonesia sebagai elemen kebudayaan yang berevolusi. Dengan demikian, apa yang kemudian disebut “bahasa persatuan” dalam Sumpah Pemuda merupakan sebuah anasir dari indentitas yang dimenangkan.

Judul               : Bahasa Melayu Indis: Politik Bahasa Kolonial Belanda sampai 1901

Penulis            : John Hoffman

Penerjemah     : Fatih Abdulbari

Penerbit           : Diomedia

Tahun              : Februari, 2022

Tebal               : 132 Halaman

ISBN              : 978-623-5518-35-0

Peresensi         : Wardedy Rosi

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Madura.

Saat ini bergiat di Sivitas Kotheka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *