oleh

Polres Didemo Lagi, PMII Gerah dengan Banyaknya DPO Kasus Rudapaksa

KABARMADURA.ID, Sampang –Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Kopri PC PMII) Sampang kembali mendemo Markas Polres (Mapolres) Sampang, Kamis (8/10/2020).

Mereka kembali mempertanyakan hasil penangkapan pelaku kekerasan seksual terhadap anak dibawah umurasal Kecamatan Torjun, Sampang beberapa waktu lalu. Sebab, hal itu sudah jadi tuntutan pada aksi sebelumnya, atau pada 24 September 2020.

Saat demonstrasi sebelumnya, aktivis PMII juga komitmen akan turun jalan lagi jika penangannya belum tuntas. Sebab, dalam kasus yang terjadi pada awal tahun 2020 itu, terdapat enam terduga pelaku, namu yang berhasil ditangkaphanya empat pelaku.

Dalam demonstrasi tersebut dipenuhi oleh kaum hawa, mereka berkumpul dilapangan Wijaya Kusuma, kemudian long march dari Jalan Raya KH. Wahid Hasyim hingga berakhir di Jalan Raya Jamaludin, tepatnya depan Mapolres Sampang.

Selama menyusuri jalan, demonstran tidak henti berorasi, bahkan sempat berorasi di beberapa tempat, seperti Jalan Syamsul Arifin, Monumen Sampang, area Terminal, Pasar Srimangunan, hingga perempatan Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Demonstran juga melakukan aksi bungkam danmembentangkan banner panjang bertuliskan “Menolak Lupa, Tangkap Semua Pelaku Kekerasan Seksual di Kabupaten Sampang”, sambil lalu melakukan orasi untuk menuntut kepada kepolisian agar segera meringkus sisa pelaku yang saat ini masih berkeliaran.

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Miatul Khoir mengatakan, apresiasi sebenarnya sudah disematkan ke pihak kepolisian, karena telah menangkap 4 dari 6 pelaku kasus kekerasan seksual dalam kurun waktu 9 bulan ini. Namun, apresiasi itu belum lengkap tanpa menangkap pelaku yang saat ini masih buron.

“Sebelumnya, kami melakukan aksi dan sat ini sudah berhasil 4 orang diamankan, dan ini menjadi catatan merah kelalaian Polres Sampang dalam menangani kasus kekerasan seksual di Sampang,” ungkanya, Kamis (8/10/2020).

Aksi itu harus dilakukan, karena begitu banyaknya kasus kekerasan seksual di Sampang. Bahkan berdasarkan catatan PMII Sampang, sudah ada 7 kasus kekerasan seksual selama tahun 2020 ini.

Dimulai kasus kekerasan seksual disertai kekerasan fisikpada 17 Februari 2020. Dalam kasus itu, polisi menahan 9 pelaku. Kemudian pada 7 Juli 2020, kasus serupa terjadi di Kecamatan Omben, pelakunya diduga ayah tiri korban. Sedangkan pada September 2020 kembali digemparkan dengan kasus kekerasan seksual anak bawah umur di Kecamatan Pangarengan.

Pada kasus Pangarengan, dari empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka, polisi hanya bisa menangkap 1 pelaku. Sementara tiga lainnya masih DPO.

Atas banyaknya DPO dalam setiap kasus kekerasan seksual, PMII merasa kinerja Polres Sampang dalam penanganan kasus kekerasan belum baik.

Sehingga aksi bungkam dalam demonstrasi itu juga sebagai simbol bahwa masyarakat harus mendapat edukasi tentang kekerasan seksual di Sampang sudah dalam status darurat. Aksi bungkam itu dilakukan dibeberapa lokasi, yakni Jalan Syamsul Arifin, Monumen Sampang, area terminal, Pasar Srimangunan hingga perempatan Jalan Jaksa Agung Suprapto.

“Pembagian titik aksi itu bertujuan untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat, Sampang sedang darurat kekerasan seksual,” imbuhnya.

Menanggapi tuntutan tersebut, Kasatreskrim Polres Sampang AKP Riki Donaire Piliang menyampaikan, kasusnya tetap ditindaklanjuti dan tidak ada satupun kasus yang sampai diabaikan. Hal itu dibuktikan dengan bertambahnya pelaku yang berhasil ditangkap. Sebab, sebelumnya ada dua pelaku berhasil diamankan tapi saat ini sudah bertambah empat pelaku.

“Pelaku itu semuanya ada enam, dan kami akan tetap tindak lanjuti dua pelaku berstatus DPO, dan kami harapkan rekan-rekan PMII bisa memahami situasi dan kondisi,” tuturnya.(mal/waw)

 

Komentar

News Feed