Polres Sampang Dua Tahun Gagal Tangkap Dua DPO Kekerasan Seksual

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) BELUM LENGKAP: Pelaku kekerasan seksual bergilir 6 orang tahun 2019 lalu tersisa dua pelaku belum ditangkap.

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Kasus kekerasan seksual yang ditangani Polres Sampang sejak tahun 2019, belum rampung hingga awal tahun 2021 ini. Kekerasan seksual yang menimpa anak usia 14 tahun itu, belum tuntas, karena masih ada terduga pelaku yang belum tertangkap.

Kekerasan itu terjadi di Kabupaten Pamekasan, namun menimpa gadis yang berasal dari Kecamatan Torjun, Sampang. Dua pelaku yang belum tertangkap itu, saat ini masih bersatus daftar pencarian orang (DPO).

Bacaan Lainnya

Berdasarkan catatan Kabar Madura, tercatat ada enam pelaku dalam kasus kekerasan seksual bergilir. Namun tidak semua pelaku berhasil ditangkap. Kasus itu sampai mengundang aksi dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sampang beberapa waktu lalu. Mereka menuntut agar semua pelakunya ditangkap.

Kanit PPA Polres Sampang Iptu Sujianto membenarkan mengenai adanya kasus itu. Dia mengaku sudah berupaya agar semua pelaku tersebut berhasil diringkus, namun hanya empat yang berhasil ditangkap. Kendati begitu, dia mengklaim masih mencari keberadaan dua DPO itu.

Dikatakannya, dua DPO tersebut dideteksi sebagai warga Pamekasan, sehingga dirinya meminta bantuan ke Polres Pamekasan. Pihaknya sudah mengirim surat ke Polres Pamekasan yang berisi alamat dari dua pelaku tersebut.

“Untuk kasus tahun 2019 itu hanya satu yang belum tuntas, yaitu kasus kekerasan seksual bergilir, karena dari enam pelaku hanya empat yang ditangkap, duanya masih DPO dan itu orang Pamekasan,” tuturnya, Selasa (5/1/2020).

Kronologi kasus kekerasan seksual tersebut berawal dari perkenalan di media sosial (medsos) Facebook. Kemudian dilanjut dengan pertemuan antara salah seorang pelaku dengan korban. Akhirnya korban diajak ke Pamekasan, disitulah peristiwa itu terjadi.

“Yang paling berbahaya itu media sosial, karena di sana itu lengkap, termasuk video-video negatif, jadi dengan media sosial semuanya mudah terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu, aktivis perempuan dari lembaga Madura Development Watch (MDW) wilayah Sampang Siti Farida mengaku kecewa terhadap kinerja Polres Sampang. Dia beranggapan bahwa polisi tidak serius menangani kasus tersebut, apalagi pelaku utama sudah berhasil ditangkap dan alamat semua pelaku sudah diketahui.

“Ini terkesan ada pembiaran, karena semua alamat dari pelaku sudah dikantongi, jadi saya sebagai perempuan sangat kecewa,” singkatnya. (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *