Polres Sumenep Dituntut Usut Mafia Beras Oplosan

  • Whatsapp
(KM/IST) TERUNGKAP: LA selaku pemilik dan pengelola UD Yudha Tama ART ditetapkan sebagai tersangka.

Kabarmadura.id/Sumenep-Polres Sumenep telah resmi menetapkan LA (40) sebagai tersangka dalam kasus beras oplosan, pada Jumat (20/3/2020). LA merupakan pemilik gudang sekaligus pengelola UD Yudha Tama ART.

Penetapan tersebut sudah hampir satu bulan setelah penggrebekan pada (27/2/2020) lalu. Keberhasilan tersebut membuat sejumlah pihak meminta polres untuk lebih keras mendalami kasus tersebut, karena ada dugaan tidak hanya dilakukan oleh satu perusahaan saja.

Dugaan tersebut bermula dari asumsi publik yang berdasarkan banner yang terlampir di gudang UD Yudha Tama ART.  Di gudang milik LA itu, diduga pengoplosan beras dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan Bantuan Pangan Nomorn Tunai (BPNT), saat ini sudah berubah ke program sembako, juga terpampang nama Affan Group.

Kapolres Sumenep AKBP Deddy Supriadi menyampaikan, berdasarkan pengembangan kasus tersebut, pihaknya juga berjanji akan mendalami dugaan ada pihak-pihak lain yang terlibat dalam aksi serupa dan juga didistribusikan untuk pemenuhan kebutuhan BPNT.

“Untuk sementara kami tetapkan pelaku LA sebagai tersangka. Tidak menutup kemungkinan kami dalami  fakta-fakta berikutnya ada tersangka lainnya. Informasinya kegiatan usaha Affan Group ini banyak di beberapa tempat,” katanya, Minggu (22/3/3030).

Deddy menambahkan, apalagi praktik yang dilakukan oleh LA sudah bermula sejak tahun 2018 lalu. Sedangkan fakta dari hasil penyidikan, bahwa beras oplosan tersebut diperoleh dari kemasan Bulog yang dibeli dari Sidoarjo. Beras bulog tersebut kemudian dicampur dengan beras lokal atau beras petani.

Setelah itu, disemprot dengan cairan daun pandan untuk memelihara harum beras tersebut, dan puncaknya dilakukan pencampuran.

Selanjutnya, pihaknya juga meminta kepada masyarakat, karena berhubungan pendistribusian beras oplosan tersebut kerap dikait-kaitkan dengan perialisaian BPNT, maka masyarakat diminta agar segera melaporkan jika terdapat merek serupa dengan yang didistribusikan oleh LA, hal itu juga berlaku tidak hanya di kepulauan.

“Kami mohon bantuan masyarakat untuk memberikan informasi, dimana praktik-praktik pengoplosan beras di tempat lainnya. Ini yang sangat kami harapkan, sehingga kasus lain bisa terungkap juga,” imbuhnya

Berdasarkan penerapan pasal kepada tersangka adalah berlapis, dengan persangkaan pasal yaitu Pasal 62 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 135 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan dan Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.

“Ancamannya selama lima tahun di masing-masing pasal,” paparnya.

Sementara itu, salah satu praktisi hukum di Sumenep Nomorvel mengatakan, setelah terungkapnya dan ditetapkan sebagai tersangka, maka Polres Sumenep harus sudah mulai memangkas perusahaan yang terlibat melakukan praktik picik dan merugikan bahkan mengancam kesehatan masyarakat tersebut.

“Karena saya kira di Sumenep itu banyak yang melakukan hal seperti itu, dan yang dilakukan tersangka itu hanya lokalan kecil. Nah ini perlunya dilakukan pengungkapan besar-besaran biar masyarakat jera untuk melakukan praktek seperti itu,” jelasnya. (ara/waw)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *