Potret Dedikasi Yuklayushi, Hakim Perempuan Asal Bangkalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ISTIMEWA) SEMANGAT: Salah satu hakim asli Madura dengan nama Jepang.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Yuklayushi, jika sekilas dibaca seperti nama orang Jepang. Padahal, nama tersebut merupakan nama seorang hakim perempuan muda usia 38 tahun, asal Madura. Dia Kini sedang menjalani masa jabatannya sebagai salah satu hakim di Pengadilan Negeri Bangkalan.

Yuklayushi merupakan wanita muda asli kelahiran Bangkalan, 10 Februari 1982. Dia memiliki nama layaknya orang keturunan Jepang.  “Walaupun nama seperti orang Jepang, tapi saya Madura asli. Saya kelahiran Kabupaten Bangkalan, masa kecil dan remaja saya di Sumenep, “jelasnya kepada wartawan.

Bacaan Lainnya

Sebelum di Bangkalan, masa kecilnya banyak dihabiskan di Sumenep. Yuklayushi menjalani masa sekolahnya di SD Bangselok I,  SLPTN 1 Sumenep, dan SMUN 1 Sumenep. Sementara itu, perjalanan karir hakimnya dikatakannya tidak semudah yang orang lain pikirkan. Banyak rintangan selama menjalani proses perjalanan karirnya menjadi seorang hakim.

Setelah lulus kuliah, dia menganggur selama tiga tahun. Selama menganggur, dia tidak berdiam diri saja, namun sambil mengikuti test cakim (calon hakim) hingga 3 tahun ikutan test. Akhirnya perempuan lulusan Universitas Brawijaya Malang ini  berhasil lulus test cakim. Dia menjalani menjalani masa pendidikan cakim di Pengadilan Negeri Bangkalan selama tiga tahun.

Selanjutnya, Yuklayushi mendapatkan penempatan tugas pertamanya di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Usai ditugaskan di sana, dia kembali ke Sumenep karena  mutasi ke PN Sumenep. Dia berada di Kota Keris selama 3 tahun 3 bulan.  “Alhamdulillah, sekarang kembali lagi bertugas di PN Bangkalan hingga saat ini,” jelasnya.

Selama masa kecilnya, dia bercita-cita hanya  ingin menjadi ibu rumah tangga yang selalu di rumah, dan mengabdikan diri kepada  suami  anak-anak. Jalan hidupnya justru lebih berwarna. Dia bersyukur dengan profesi yang sedang dijalaninya.

“Dengan menjadi seorang hakim saya ingin berbagi ilmu yang bermanfaat untuk orang lain, instansi saya, lembaga saya, bangsa dan negara,” lanjutnya.

Selama menjadi hakim, suka duka yang dialaminya adalah takut bersikap tidak adil jika ada pihak yang merasa di dzolimi. Dia sadar, dalam memberikan putusan pasti ada pihak yang tidak puas. Oleh karenanya, dia menghadapi hal itu dengan berdoa.

“Saya selalu berdoa kepada Allah semoga Allah selalu melindungi, menyelamatkan saya dalam melaksanakan tugas. Alhamdulillah pertolongan dan perlindungan Allah nyata adanya. Seiring berjalannya waktu, saya bisa melaksanakan tugas ini dengan penuh tanggung jawab,” jelas ibu dari 3 anak ini.

Kemudian,  suka dukanya yang lain yaitu ketika berpindah pindah tempat tugas. Katanya, dia pernah 3 tahun di Enrekang, 3 tahun di Sumenep.  Dia menyebut berpindah-pindah tempat tugas sebagai  duka karena selama bertugas di luar Jawa  berjauhan dengan keluarga.

Namun, dikatakannya bahwa dengan berpindah tempat tugas, dia dapat mengenal kearifan lokal daerah setempat. Selain itu juga memiliki banyak kenalan dan momen bahagia saat bertugas. Kemudian, untuk mewujudkan peradilan yang agung, Dia dituntut untuk berkreasi dan berinovasi.

“Dengan menjadi hakim, kita harus siap, suka tidak suka, harus siap ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), saya teringat nasihat almarhum Pakde saya yang mengatakan “selama bertugas di bumi Allah, insya Allah selamat dan bisa hidup,” pungkasnya. (ina/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *