Potret Kegigihan Pencari Ilmu   

  • Whatsapp

Oleh : Joko Susanto*)
Perjalanan mencari ilmu merupakan langkah yang mulia dan penuh makna. Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Demikian pesan mulia dari Nabi.  Dengan ilmu terutama ilmu agama, kita akan memahami agama dengan baik dan benar serta dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ilmu menjadi lentera yang menerangi jalan panjang kehidupan manusia. Keutamaan mencari ilmu seharusnya terus dikampanyekan kapan saja dan di mana saja.

Hidup di zaman serba instan ini, pandangan orang terhadap ikhtiar mencari ilmu sangat beraneka ragam. Ironis bila ada yang langsung menyerah ketika di tengah jalan mereka menghadapi sejumlah hambatan. Karena terbiasa enak, mudah, lancar, sehingga kadang kala daya juang  dan daya tahan menghadapi kendala saat mencari ilmu masih harus ditingkatkan. Semangat itu harus massif dipompa. Kesulitan-kesulitan yang dialami pencari ilmu saat ini mungkin  belum seberapa apabila dibandingkan dengan yang dialami para ulama terdahulu.

Bacaan Lainnya

Buku dengan ilustrasi full color  ini menyajikan kisah teladan suka duka para ulama zaman dulu dalam mencari ilmu. Sehimpun ilmu yang dikumpulkan ternyata diperoleh dengan kerja keras, memeras keringat membanting tulang. Sebagian diantaranya ada yang berjalan kaki berbulan- bulan hanya untuk mendapatkan sebuah hadits. Ada pula yang terasing, hidup miskin, ditimpa kelaparan demi menuntut ilmu.

Buku ini dibuka dengan sebuah pesan dari Nabi Muhammad bahwa barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Penulis pun menjelaskan sepuluh keutamaan mencari ilmu. Satu diantaranya adalah ilmu merupakan amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana hadits riwayat Muslim. Pembaca diberikan sebelas bekal mencari ilmu menurut Imam Syafi’i seperti perlunya mencatat ilmu yang diperolehnya dengan baik. (Halaman 8).

Penulis buku ini menukil kitab Ta’lim Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnubi terkait dengan tema adab dan sopan santun murid kepada guru. Seorang murid selayaknya mengedepankan adab atau etika terlebih dahulu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Tanpa diiringi dengan akhlak yang baik, sulit kiranya untuk mereguk ilmu yang berkah.

Tidak kurang dari 42 kisah penuh hikmah disajikan dalam buku ini. Mulai kisah Nabi Musa menuntut ilmu, penderitaan Abu Hurairah saat mencari ilmu, Khalifah Harun Al Rasyid dan penuntut ilmu, perjuangan Imam Bukhari dan  Imam Syafi’i, serta kegigihan  Nuruddin Zanki.

Fakta unik ditunjukkan dalam kisah Baqi bin Makhlad, seorang pencari ilmu dari Spanyol. Dia menyeberang selat Gibraltar, melintasi Maroko, menembus gurun pasir Libya, menyusuri lembah Nil hingga tiba di Irak.

Perjuangan berat itu dia lakukan demi mencari ilmu kepada Imam Ahmad bin Hambal yang berada di Baghdad, Irak. Ketika mendekati perkampungan Imam Ahmad, dia mendengar kabar bahwa sang Imam sedang dihukum oleh penguasa. Guru itu tidak boleh bergaul dengan masyarakat, tidak boleh mengajar dan tidak boleh didatangi murid-muridnya.

Agar perjalanannya tidak sia-sia, Baqi mempunyai ide yang unik. Dia usul menyamar sebagai seorang pengemis yang datang setiap hari karena apabila diketahui oleh mata-mata raja maka mereka semuanya akan dihukum. Keesokan harinya Baqi menyamar sebagai seorang pengemis berdiri di depan pintu lalu memanggil dan meminta-minta layaknya seorang pengemis.  Saat itulah dia berkesempatan menuntut ilmu meskipun sedikit karena waktunya terbatas. Sedikit ilmu setiap hari cukup bagi dia kemudian pergi ke sebuah lokasi yang tersembunyi. Rencana itu berlanjut. Kegiatan itu berlangsung selama puluhan hari hingga akhirnya raja yang menghukum Imam Ahmad meninggal dunia dan penggantinya membebaskan Imam Ahmad dari segala hukuman. Murid-muridnya pun kembali normal seperti sedia kala.  Di setiap pengajiannya Imam Ahmad menceritakan kisah kegigihan muridnya dari Spanyol itu dalam mencari ilmu di hadapan murid-muridnya yang lain. (Halaman 42).

Tidak kalah serunya, seorang ulama ahli bidang bahasa dan sastra yaitu Abu Zakaria Yahya bin At-Thibrizi dahulu pernah ingin menemui seorang guru dan mendiskusikan beberapa jilid buku. Setelah mengetahui tempat tinggal gurunya,  dia meletakkan kitab-kitab itu pada suatu tempat lalu memanggulnya di atas bahunya.  Dengan beban berat ia berjalan dari daerahnya karena tidak mempunyai uang menyewa binatang tunggangan. Ketika sampai di Baghdad, orang-orang yang melihatnya mengira dia basah karena tenggelam padahal keringatnya mengucur deras karena berjalan jauh dengan memikul kitab-kitab dari kampungnya yang jauh. (Halaman 81).

Dengan membaca buku mutiara kisah teladan ini, pembaca akan mengetahui bahwa berjibaku mencari ilmu merupakan perjuangan yang mulia asal diniatkan mengharap ridho Illahi. Kesulitan-kesulitan yang terpampang atau dialami pencari ilmu sekarang ini memang beragam namun belum seberapa dibandingkan kesulitan yang dihadapi para ulama terdahulu. Karenanya, kita harus optimis, percaya diri,  dan bersemangat mencari ilmu sambil berikhtiar semoga segera ada jalan keluar.

Dengan tampilan yang menarik, bahasa ringan dan mengalir, dan sentuhan penulis didukung editor berpengalaman, buku ini tidak hanya cocok dibaca para siswa namun  pas pula bagi orang dewasa. Buku ini menyuguhkan kumpulan pengalaman berharga bagi generasi muda dalam menimba bekal masa depannya.  Semangat membaca! Selamat menggali inspirasi.

Judul Buku      : Berjalan Jauh Mencari Ilmu
Penulis            : Muhammad Yasir
Penerbit           :  Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan          :  Pertama, Januari 2020
Tebal               :120 halaman
ISBN               : 978-602-1694-817

*) Peresensi adalah seorang pencinta literasi. Masih berlatih menulis dan sebuah buku karyanya adalah Serba-Serbi Penulis Cilik. Kini berdomisili di Sidoarjo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *