Potret Kepedulian Mahasiswa kepada Petani Garam, Ciptakan Teknologi Pemasaran dan Smart Packaging

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) PEDULI: Salah satu tim saat mengunjungi bapak Mahdori Apriyanto, Ketua Kelompok Petani Garam Makmur, di Kecamatan Kwanyar, Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Nasib petani untuk bertahan hidup di masa pandemi bukan hanya menjadi perhatian pemerintah. Para mahasiswa pun juga ingin mengambil bagian dalam meningkatkan kesejahteraan para petani. Apalagi mahasiswa digadang-gadang sebagai tulang punggung masyarakat dan calon pemimpin masa depan nantinya,

Bangkalan, Helmi Yahya

Seperti halnya yang dilakukan oleh Alsya Firdausi Nuzula, mahasiswi Unair, yang mencoba menganalisis pokok permasalahan harga garam. Ia menemukan titik permasalahannya, yakni harga garam grosok anjlok hingga 90% dari awalnya Rp3000/kg menjadi Rp300/kg saat memasuki industri pengolahan garam. Menurutnya, hal tersebut disebabkan salah satu kebijakan pemerintah mengimpor garam industri.

“Padahal, industri pengolahan garam yang ada di Indonesia menjadi sumber penjualan garam grosok mitra,” katanya.

Hal tersebut membuat para petani garam menyisakan garam grosok untuk dijual sendiri di rumah. Akan tetapi, hal itu menyebabkan garam grosok dibiarkan begitu saja di gudang tanpa pengemasan, lalu mengakibatkan produk garam tidak tahan lama dan banyak terbuang ke tanah.

Selain itu, menurutnya, tingkat penjualan juga tidak menentu, karena pembeli hanya dari tetangga sekitar dan konsumsinya dalam jumlah sedikit. Hal ini berujung kepada jumlah pemasukan yang tidak sesuai dengan jumlah pengeluaran.

“Apalagi, minimnya pengetahuan dalam membuat buku akuntansi sederhana untuk mengetahui laba rugi dalam usaha tersebut, dan kurangnya memanfaatkan teknologi digital,” paparnya.

Alsya juga mengaku, timnya pernah lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Iptek (PKM-PI) yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud-ristek RI). “Saya merasa senang, karena tidak menyangka niat membantu ini direspon baik oleh pemerintah pusat,” ulasnya.

Alsya menjelaskan produk PKM yang dibuat yaitu berupa teknologi pemasaran dan smart packaging. Teknologi pemasaran yang memanfaatkan digital marketing berupa website, marketplace (Facebook dan Instagram), serta e-commerce (Shopee, Bukalapak dan Tokopedia).

“Kami ingin meningkatkan kualitas kemurnian garam grosok menjadi standar minimum kemurnian garam industri sebesar 98%,” teguhnya.

Timnya juga menyiapkan modul buku akuntansi sederhana yang bisa digunakan untuk mengetahui dan mengetahui pengeluaran serta pemasukan. “Pada aspek smart packaging-nya yaitu meningkatkatkan kualitas kemasan dengan standar SNI, dan menunjang branding garam grosok Madura melalui barcode yang terkoneksi dengan website tangbuje,” jelasnya.

Perempuan asal Bangkalan ini berharap melalui teknologi pemasaran digital, petani mampu meningkatkan area pemasaran yang sebelumnya hanya sekitar Madura Surabaya hingga menjadi Nasional. “Ini nanti bisa mempermudah akses pembelian dari pangsa pasar langsung terhubung ke petani garam tanpa melalui tengkulak,” tegasnya.

Selain itu smart packaging juga diharapkan mampu meningkatkan jumlah penjualan yang awalnya 1 bulan 30 kg menjadi 1 bulan 60 kg dengan pemasaran online.

“Kami harap apa yang nanti kami gagas dan berikan bisa membangkitkan industri garam di Madura, khususnya Bangkalan,” pungkasnya. (hel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *