Potret Sosok Maltuful Anam, Ketua Apdi Pamekasan; Tiga Tahun Jualan Singkong untuk Biayai Kuliah Pascasarjana


Potret Sosok Maltuful Anam, Ketua Apdi Pamekasan; Tiga Tahun Jualan Singkong untuk Biayai Kuliah Pascasarjana
(KM/IST) Maltuful Anam: Ketua Apdi Pamekasan

KABARMADURA.ID | Setiap orang mempunyai kisah tersendiri dalam perjalanan hidupnya. Seperti halnya dengan yang dialami oleh Maltuful Anam, ketua Asosiasi Pegiat Desa (Apdi) Pamekasan. Perjuangan hidupnya penuh lika-liku. Dia mengaku pernah berjualan keripik singkong.

KHOYRUL UMAM SYARIF, PAMEKASAN

Sosok yang saat ini menempuh pendidikan S-3 di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang itu mulai meniti karir sebagai tenaga pendamping desa (TPP) tahun 2016. 

Dia menegaskan bahwa kesuksesan itu merupakan pola komunikasi, diharuskan istikamah, serta pasrah. Pasrah dalam artian kita usaha dan harus tunduk dan menerima apa saja yg menjadi keputusan Yang Maha Kuasa. Kita jangan pernah mengeluh kepada manusia. Jangan pernah bersandar kepada manusia karena manusia itu bisa berubah," paparnya, Kamis (8/9/2022)

Lulusan Magister Universitas Islam Surabaya (UINSA) itu menceritakan, dia berjualan keripik singkong di rumah mertuanya di Camplong. Sementara kulakan keripik mentahnya di Desa Rek Kerrek Palengaan dengan memakai  sepeda motor dengan membonceng istri dan anaknya. 

Hal itu menurutnya biasa sebagai bentuk perjuangan, namun point penting baginya urusan rezeki tidak pernah menjadi tolok ukur, tetapi kebermanfaatan bagi agama dan masyarakat yang menjadi prioritas.

"Keadaan yang paling menekan dan saya jadikan pelajaran ketika ada di situasi yang mengharuskan saya mengambil sebuah keputusan dari hal yang bertentangan dan sangat rumit. Cara saya menghadapi dengan mengambil skala prioritas ya dengan meminta petunjuk kepada yang maha menunjukkan," ujarnya.       

Selanjutnya, dalam hal keorganisasian, dia sudah menggelutinya sejak kuliah. Pernah jadi aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Kemudian menjadi Katib MWCNU Palengaan.

"Memang karir organisasi saya zig-zag. Tidak beraturan, dari Katib MWCNU ke Ansor, lalu ke PCNU. Itu semua bagi saya pengabdian karena saya merasa nyaman di organisasi kemasyarakatan khususnya di NU," urainya.

Sosok yang selalu menjadi penguat selama ini, adalah keluarganya, sebab  orang tuanya selalu berpesan kerjakan apa saja yang diinginkan,  asal tidak bertentangan dengan norma agama dan adat.

"Saat ini istri saya sangat mendukung apa saja yang saya lakukan asal jangan nikah lagi," imbuhnya dengan gelak tawa.

Dia berpesan kepada para pemuda untuk tangguh, dan banyak belajar, bukan hanya belajar ilmu tapi juga belajar situasi sosial. "Pada saat S-2 saya jualan keripik singkong untuk biaya kuliah sekaligus biaya hidup keluarga. 3 tahun saya jualan keripik singkong, Mulai tahun 2013-2016," pungkasnya.