PPDB Dibuka, Banyak Siswa Salah Pilih Sekolah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BELUM PAHAM: Banyak siswa yang salah memilih sekolah, sebab kurang memahami mengenai sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB).

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Penerimaan peserta didik baru (PPDB) telah dibuka. Sementara itu, pendaftaran yang dibuka secara daring membuat sebagian siswa salah memilih sekolah. Padahal, kesempatan pendaftaran menggunakan nomor induk hanya bisa dilakukan sekali. Meskipun, tahapan pendaftaran dibuka hingga tiga kali dengan termin yang berbeda.

Kepala Seksi SMA, SMK, PK dan PLK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Bangkalan Moh Fauzi menyampaikan, masih banyak siswa yang salah paham dalam pendaftaran PPDB 2022. “Ternyata masih banyak yang belum paham, sehingga kemudian mereka datang meminta agar diganti ke kantor,” katanya.

Padahal menurut Fauzi, kesempatan yang hanya sekali tersebut mestinya dimanfaatkan dengan baik. Sehingga, ketika sudah diterima di salah satu sekolah, maka tidak akan menyesal. “Kadang mereka menggunakan tahap prestasi dengan nilai raport, tapi ingin sekolahnya dekat dengan rumahnya, akhirnya salah sasaran,” ungkap Fauzi.

Tidak hanya itu, Fauzi menuturkan, lebih tepat menggunakan sistem zonasi jika siswa menginginkan sekolah yang dekat. Begitupun sebaliknya, menurutnya, jika ingin sekolah yang berprestasi, maka memakai tahap prestasi agar tidak salah sasaran. .

“Tahapnya ini kan ada tiga, sedangkan prestasi dan zonasi ini jadi yang paling banyak digunakan oleh siswa,” ucapnya.

Fauzi menjelaskan, tahapan pertama yang dibuka yaitu tahap afirmasi atau yang diberlakukan kepada siswa yang orangtuanya sedang pindah tempat atau berasal dari keluarga kurang mampu. Kemudian ada tahap prestasi, yaitu menggunakan nilai raport. Terakhir, tahap zonasi, yaitu menggunakan sistem jarak.

“Jika sekolah itu sudah penuh, maka yang dipilih adalah yang terdekat, dan acuan jaraknya adalah tempat tinggal di kartu keluarga dan sekolah,” ulasnya.

Menurutnya, jika sudah memilih sekolah dan diterima, maka pilihan tersebut tidak bisa digagalkan. Sehingga, baik orang tua atau siswa harus sama-sama memahami.  “Mau bagaimanapun meminta agar diubah, kami tidak bisa, karena ini sudah sistem dari aplikasinya,” terang Fauzi menutup pembicaraan.

 

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *