PR Ayunda Utamakan Tembakau Madura, Targetkan Dua Ribu Pekerja


PR Ayunda Utamakan Tembakau Madura, Targetkan Dua Ribu Pekerja
(KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) KOMITMEN: PR Ayunda ingin memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya kepada masyarakat melalui produksi rokok.  

kKABARMADURA.ID | PAMEKASAN -Tahun ini Perusahaan Rokok (PR) Ayunda menargetkan dua pekerja untuk proses produksi. Selain itu, bahan utama yang digunakan oleh PR Ayunda Yaitu tembakau asli Madura.         

Menurut Direktur Utama CV. Ayunda Bambang Budianto, salah satu cara yang ditempuh dalam mengikhtiarkan keinginan mengangkat cita rasa budaya lokal yang saat ini sudah ada dua lokasi gudang yang dipersiapkan. Salah satunya baru di-launching, Kamis (29/8/2022) di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, yang secara khusus memproduksi rokok kretek.

“Sekitar 600 karyawan yang sudah bekerja di perusahaan tersebut. Semuanya sudah didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan dan iurannya ditanggung oleh perusahaan,” ungkapnya saat diwawancarai Kabar Madura usai grand pening gudang kedua, Kamis (29/9/2022).

Grand opening gudang unit dua rokok kretek yang berlokasi di Desa Jarin, Kecamatan Pademawu. Bambang menjelaskan, saat para pekerjanya bekerja memproduksi rokoknya, dilarang membawa bekal dari rumahnya, sebab dia sudah menyiapkan dua porsi makanan setiap pekerja.  

"Kami berkomitmen sedari awal mendirikan perusahaan ini sebagai alat untuk bersedekah kepada sesama, dan membantu masyarakat yang kurang mampu," urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Achmad Sjaifuddin menyampaikan, untuk membangun perekonomian melalui industri tembakau yang legal berbasis bahan lokal sangat menarik untuk terus didukung. Karena akan berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat petani tembakau.

"Kami mendorong tumbuh dan berkembang pabrik rokok lokal, karena selain memberikan dampak positif ekonomi, ternyata juga memberikan manfaat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat petani tembakau," ungkapnya.

Reporter: Khoyrul Umam Syarif

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky