Prihatin Kendurnya Regenerasi Petani, LPPNU Pamekasan Tawarkan Solusi Menggerakkan Kaum Milenial

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) REGENERASI: Sejumlah santri saat mengikuti workshop dan studi lapang yang digelar oleh LPPNU Pamekasan.

KABARMADURA.ID | PAMEKASANSemakin berkurangnya generasi petani di Pamekasan, membuat beberapa kelompok masyarakat mulai tergerak membuat terobosan secara mandiri. Salah satunya dilakukan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Pamekasan.

Langkah yang dilakukan LPPNU Pamekasan kali ini adalah menggerakkan kaum milenial. Sebab, generasi tersebut yang diklaim banyak yang tidak tertarik menjadi petani.

Bacaan Lainnya

Menurut Sekretaris LPPNU Pamekasan, Tabri S. Munir, selama ini petani di Pamekasan bergantung pada tanaman padi. Namun pola produksi tanaman pangan tersebut dinilai terus membuat rugi petani.

Dia mencontohkan, dengan modal produksi senilai Rp3 juta  untuk lahan sekitar 6000 meter persegi, mereka hanya mendapat hasil panen beras 640 kilogram. Dengan asumsi harga  beras Rp9000 per kilogram, petani hanya mendapat hasil Rp5.760.000 dari hasil panennya.

Setelah dipotong ongkos produksi sebesar Rp3 juta untuk pupuk, ongkos panen, bibit, pajak dan lain-lain. Nilai modal itu, belum termasuk biaya kasar yang tidak bisa dihitung, karena dikeluarkan dari tenaga pribadi. Sehingga dalam 3 bulan, petani hanya memperoleh Rp2.760.000.

Sementara satu musim tanam padi,  hanya bisa dilakukan sekali dalam setahun. Ada rentang waktu panjang yang tidak produktif sekitar enam bulan, karena ada sebagian petani yang juga menanam tembakau dalam jangka waktu tiga bulan.

“Yang ditawarkan LPPNU adalah pola dan modernisasi produksi, kualitas bibit dan inovasi varietas dan tanaman alternatif. Salah satunya kapulaga. Dulu orang Madura sering menanam tumbuhan itu dan disebut polaga. Ini tanaman rempah yang punya potensi ekspor,” ucap pria yang tinggal di Kecamatan Palengaan itu.

Tanaman alternatif itu disebut untuk menjawab masalah rentang waktu tidak produktif petani. Yakni dengan memanfaatkan lahan tidur untuk produksi tanaman alternatif tersebut.

Dia berharap, regenerasi petani ini menjadi solusi mengurangi masalah tingginya angka pengangguran. Sebab, berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran terbuka pada periode Agustus 2020 mencapai 16.772 orang. Naik dari sebelumnya, pada periode yang sama yang  hanya 10.590. Sehingga ada kenaikan mencapai 60 persen.

“Tawaran pemerintah sebenarnya banyak, namun sentuhan regenerasi kami lihat belum maksimal, karena mazhab yang digunakan, anak petani akan jadi petani. Sementara industri pertanian sudah memasuki modernisasi dan urban farm,” kata Tabri.

Salah satu bentuk nyata yang sudah dilakukan LPPNU adalah memberikan pembekalan kepada 30 orang santri. Mereka yang didaulat sebagai duta agropreneur santri (DAS). 30 santri tersebut berasal dari masing-masing majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Pamekasan.

Ketua LPPNU Pamekasan, KH. Ilzamuddin menambahkan, gerakan DAS itu bertujuan meningkatkan partisipasi regenerasi petani di kalangan santri dan kaum milenial. Para santri diharapkan dapat memanfaatkan lahan-lahan tidur yang semakin luas. Sementara ini, pihaknya memaksimalkan di enam MWCNU.

“Ini jangka panjang. Untuk MCNU yang lain kami proyeksikan tahun depan. Kami akan konsentrasikan dulu di enam MWCNU ini dulu,” jelas pengasuh pengasuh Ponpes Al-Fatih, Desa Klampar itu.

Pihaknya menargetkan, masing-masing MWCNU memiliki varietas pertanian yang bisa dijadikan potensi lokal. Pihaknya menyediakan lahan seluas 15 hektar untuk pengembangan. Ditargetkan, akan tercipta 500 santri pelaku agropreneur.

“Regenerasi petani jarang dilakukan sentuhan secara khusus oleh pemerintah. Baik regenerasi di kalangan santri maupun kaum millennial,” terangnya.

Menanggapi minimnya regenerasi petani itu, menurut  Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Pamekasan Ajib Abdullah, pola pikir petani jaman dulu berbeda dengan petani saat ini. Petani jaman dulu mengandalkan hasil tani untuk dimakan sendiri. Petani saat ini lebih pada menjalani usaha di sektor pertanian dengan menjual hasil tani untuk ditabung.

Karena itu, menurutnya, jika hanya untuk menciptakan petani, tidak perlu dengan program khusus. Sebab, petani telah turun temurun di kalangan masyarakat. Untuk mendorong usaha di sektor pertanian, dia mengaku telah mendorong produktivitas produksi dan hasil pertanian lebih baik lagi.

“Kalau petani itu tidak diciptakan. Petani itu turun temurun. Tapi sekarang petani itu berubah mindset,” ucapnya.

Menurut Ajib, kegiatan rutin telah dilakukan untuk mendorong kaum millennial menggeluti usaha di sektor pertanian. Kegiatan tersebut berupa penyuluhan kepada masing-masing kelompok tani (poktan).

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *