Prioritaskan Pengurusan Hak Paten Hewan Endemik di Bangkalan

(FOTO: KM/HELMI YAHYA) HARUS TUNTAS: Demi mengantisipasi terjadinya kecolongan terhadap pengurusan hak paten hewan endemik, Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan mulai memprioritaskan program tersebut.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Antisipasi kecolongan pengurusan hak paten terhadap potensi hewan endemik mulai menjadi prioritas. Salah satu sasarannya, pengurusan Itik Dabung asli Kecamatan Geger Bangkalan. Sebab sebelumnya, pemerintah daerah sempat kecolongan mengenai pengurusan hak paten Ajham Gahuk.

Saat ini, hak paten tersebut sudah didahului Kabupaten Sumenep. Sehingga perlu adanya pengurusan ekstra terhadap Itik Dabung. Tujuannya, agar tidak lagi kecolongan memperoleh hak paten atas itik endemik asal Kecamatan Geger. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan Ahmat Hafid, Senin (29/11/2021).

Dia mengaku, tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya. Bahkan saat ini menginginkan agar tim yang bertugas segera menyelesaikan Itik Dabung. “Saya sudah tugaskan tim, dan mereka sudah bekerja cepat, beberapa minggu lalu sudah dikaji juga,” ujarnya. .

Bacaan Lainnya

Pihaknya menuturkan, usai melakukan survei dan penelitian Serta kajian, berkas akan diusulkan melalui Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi. Kemudian akan dilanjut pengurusannya hingga tuntas di tahun 2021. Sebab itik tersebut saat ini sudah meluas peredarannya.

Sehingga untuk sebelumnya hanya ada di Kecamatan Geger, saat ini mulai berkembang di Kecamatan Tanah Merah dan Galis. “Semoga pengurusannya segera selesai, ini sudah masuk tahap akhir.Karena  itik ini memiliki ciri khas, yakni tidak berbau dan juga dagingnya lebih empuk saat dikonsumsi,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Komisi B DPRD Bangkalan Moh Rokib mengatakan, upaya pengurusan hewan endemik yang bisa menguntungkan dan berpotensi menjadi hak paten harus terselesaikan tahun ini. “Jangan ditunda atau dientengkan. Yang bersifat segera ini harus diprioritaskan, jangan sampai kehilangan lagi,” responnya.

Rokib juga menginginkan, dinas juga tidak berhenti mengeksplorasi jenis hewan atau tanaman yang memang khas. Sebab sebelumnya juga ada bunga yang mirip bunga bangkai, tapi pemkab telat menanganinya. “Beberapa waktu lalu saya juga menerima info, tapi katanya tidak ada penanganan, sehingga bunga itu mati,” paparnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Tinggalkan Balasan