Produk Lokal UMKM Bangkalan Susah Masuk Toko Modern sebab Pajak yang Tinggi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TERTATA: Beberapa produk lokal saat dipamerkan di Pendapa Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Meningkatnya pajak toko modern berdampak pada produk lokal UMKM Bangkalan yang kesulitan untuk masuk. Sebab itu, keberadaan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016 tentang Perlindungan Pasar Rakyat dan Penataan Pasar Modern dinilai tidak mampu memajukan ekonomi daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Bangkalan Agus E Leandy menyampaikan, produk lokal UMKM Bangkalan masih kesulitan memasuki toko modern. Padahal menurutnya, produk lokal sudah memenuhi kualitas standar penjualan secara nasional. “Produk kita ini sudah bagus, tapi masih saja sulit masuk toko modern,” katanya.

Menurut Agus, ada beberapa faktor yang membuat produk lokal tidak berkembang. Selain peluang promosi di toko modern yang terkena pajak tinggi, pengurusan administrasi yang cukup sulit juga menjadi kendala. “Pajaknya di toko modern ini tinggi, pengusaha jadi berat untuk memasukkan produknya,” ulasnya.

Padahal aturan dalam perda Nomor 5 tahun 2016  menyebutkan bahwa pajak untuk produk lokal hanya dikenakan sekitar 30 persen. Tapi nyatanya, banyak yang menetapkan lebih dari itu. “Ini yang nanti akan kita coba evaluasi,” tuturnya.

Disperinaker Bangkalan akan mengajukan evaluasi terhadap perda tersebut. Tujuannya yaitu penyesuaian agar produk lokal bisa masuk dengan mudah. “Kami akan mengkonsultasikan perubahan perda ini, agar nanti bisa membuat produk kita lebih berkembang,” terangnya.

Salah satu pengusaha lokal olahan salak di Bangkalan Saniyah menyampaikan, bahwa dirinya berulang kali menawarkan produk olahannya ke toko modern. Tapi ternyata tidak diterima, bahkan kadang ditarik pajak yang cukup mahal. “Kalau saya letakkan di pasar modern untung saya sedikit,” ulasnya.

Sehingga dirinya dan beberapa pengusaha lokal lain, memilih untuk mempublikasikan dagangannya pada aplikasi e-commerce. Sebab, prosesnya lebih mudah. Atau juga melalui toko lokal atau pasar tradisional. “Saya masih jual di pasar dan di toko kecil, karena tidak mau lagi dimasukkan ke toko modern,” pungkasnya. (hel/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *