oleh

Produksi Garam Terjun Bebas, Ini Tanggapan Diskan Pamekasan

KABARMADURA.ID, Pamekasan – Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan melihat perbandingan produksi garam dari tahun 2019 sangat berbeda jauh dari tahun 2020. Pasalnya, musim kemarau saat ini lebih pendek ketimbang tahun 2019, sehingga berpengaruh besar terhadap hasil produksi lahan yang diolah dari petambak garam.

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan dan Kawasan Budidaya Diskan Pamekasan Muzanni mengungkapkan, untuk hasil produksi garam tahun 2019 berkisar 165 ton per-hektare. Tahun ini, menjadi 30 ton per-hektare. Kendalanya adalah musim kemarau yang lebih sedikit dari tahun sebelumnya, yang berakibat pada tidak samanya hasil produksi dari areal lahan yang telah tersedia.

“Sekarang memang dipengaruhi kemarau. Memang agak mundur mulainya. Tahun lalu di bulan Juni ada produksi. Tahun sekarang ini baru Agustus dimulai,”ungkapnya, Selasa (10/11/2020). 

Dijelaskan, musim kali ini sangat berbeda dimulai produksinya oleh petambak garam. Selain itu, di awal musim banyak mendung, sehingga proses evaporasi air laut menjadi sedikit terhambat.

“Di akhir musim, yang seharusnya menjadi puncak kemarau seperti tahun kemarin, ternyata harus mulai berhenti, karena sudah mulai turun hujan dengan entitas yang sangat lebat,” ungkapnya. 

Dia juga terus mendorong untuk perbaikan pengelolaan produksi petambak garam agar bisa menghasilkan garam yang berkualitas tinggi. Muaranya, bisa bersaing dengan garam impor yang dijadikan bahan di berbagai produk di Indonesia.

“Kami terus akan mensupport para petambak garam. Tentu agar bisa terus berproduksi maksimal,” pungkasnya. 

Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Pamekasan Rida’i berharap dalam musim yang akan datang bisa didampingi mulai sekarang, dengan berbagai program pelatihan yang dipromotori Pemkab Pamekasan.

“Kami sangat berharap petambak garam terus didampingi dengan baik,”pungkasnya. 

Rida’i mengeritik Pemkab Pamekasan. Menurutnya, sejauh ini pendampingan terhadap petambak garam masih jauh dari harapan.

“Mohon pemkab berbenah. Kondisi tersebut kemungkinan juga difaktori minimnya pendampingan. Sehingga, petani garam kurang greget dalam meningkatkan produksi garam,” tandasnya. (rul/nam)

Komentar

News Feed