Produksi Sapu Lidi, Mahasiswa UNIBA Madura Berpenghasilan Rp20 Juta/Bulan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ SYAHID MUJTAHIDY) PANTAU: Mahasiswa UNIBA Madura RB. Moh. Iskandar Zulkarnain mengontrol karyawannya yang tengah produksi sapu lidi.

Kabarmadura.id/Sumenep-Jelang lulus dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amien Prenduan Sumenep, RB. Moh Iskandar Zulkarnain menjalani pengabdian di Kecamatan Robatal, Sampang selama setahun. Saat itu, keinginan untuk bisa mengais rezeki sendiri sudah terbesit kuat.

SYAHID MUJTAHIDY, SUMENEP

Bacaan Lainnya

Seiring berjalannya pengabdian, pria yang familiar disapa Anang ini mulai belajar berbisnis sembari mengajar di daerah penugasan dari Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep.

Setelah pulang ke kampung halaman, mahasiswa Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura ini mulai berpikir untuk terjun ke dunia bisnis dengan modal tabungannya sebesar Rp3 juta.

Pada suatu waktu, stok sapu lidi atau sapu kebun di toko alat kebersihan milik orang tuanya tengah habis. Sementara itu, toko milik orang tuanya itu memasukkan dari Pulau Jawa. Hal itu tidak terlepas dari tidak terlalu banyak yang memproduksi sapu semacam itu.

Tak ayal, ide brilian mahasiswa kelahiran Tulungagung, 9 November 1996 ini mulai muncul. Dia ingin membuat home industry sapu lidi itu. Sebelum itu, dia survei terlebih dahulu sejumlah wilayah, seperti di Kecamatan Batang-batang.

Setelah itu, mahasiswa Jurusan Manajemen UNIBA Madura ini nekad berangkat ke Kabupaten Tulungagung untuk belajar memproduksi sapu lidi, sekaligus mencatat bahan-bahan serta alat yang dibutuhkan.

Setelah belajar selama 5 hari, Anang sekaligus membawa alat dan bahan yang dibutuhkan ke Madura untuk memulai produksi sendiri.

“Nah di sini, saya sudah mulai mikir untuk buka usaha. Akhirnya, saya ngomong ke ortu ya dengan modal seadanya. Saya coba mau produksi sapu taman. Setelah itu, saya berangkat ke Tulungagung lihat produksi cara pembuatan sapu itu,” ceritanya kepada Kabar Madura, Senin (13/7/2020) pagi.

Awalnya, mahasiwa yang tinggal di Pamolokan, Sumenep ini memproduksi sendiri. Terkadang, dia dibantu oleh orang tuanya. Dua bulan berjalan produksinya, Anang memutuskan untuk melanjutkan kuliah di UNIBA Madura pada tahun 2018.

Pria berusia 23 tahun itu menceritakan, pernah kekurangan modal. Tak ayal, dia ikut bantu menjualkan es kopyor milik temannya.

Namun usaha keras Anang tidak mengkhianati hasilnya. Saat ini, dia sudah tidak memproduksi sendiri, namun telah memiliki empat karyawan.

Bahkan, dia membeberkan, sehari sudah bisa memproduksi 75 hingga 100 sapu taman. Dia juga menyebut, pendapatannya sebulan bisa menembus Rp15-20 juta.

“Awal-awal modal seadanya, hanya Rp3 juta. Alhamdulillah, setiap bulannya omset dari Rp15-20 juta ke atas. Kami kalau produksi sehari bisa 75 sampai 100 sapu taman,” tutup Anang. (nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *