oleh

Produktif Menulis Puisi Sejak SMA, Helmy Prastyo Raih Banyak Penghargaan

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Hampir semua orang menyukai puisi. Tetapi tidak semua orang bisa menulis puisi. Beda halnya dengan Helmy Prasetya, salah satu dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bangkalan yang mampu melahirkan ratusan puisi selama menekuni dunia tulis menulis..

Puisi hasil karyanya pernah meraih penghargaan di Udayana, Bali tahun 2012. Di mana ada 6 puisinya menjadi karya terbaik Nusantara. Pada tahun yang sama, naskah teaternya masuk 10 naskah terbaik Federasi Teater Indonesia. Kemudian 2019 kemarin, puisinya jadi puisi pilihan basa-basi.co bersama 10 sastrawan seluruh Indonesia lainnya.

Selain itu, ia juga telah sukses membukukan antologi puisi tunggal sebanyak 9 buku. “Tapi 2 buku tidak saya ISBN kan karena bersifat privat,” ujarnya, Kamis (22/4/2021).

9 karyanya itu ada Antologi Cinta tahun 2003, Sepasang Mata Ayu tahun 2009, Tamasya Celurit Minor tahun 2015, Mendapat Pelajaran dari Buku, Mata yang Baik, Antropologi Hilang, Hanya Ketika, Luka, dan Aku Mencintaimu.

“Anggap aja rata-rata 1 antologi tunggal itu isinya 75 halaman, tinggal kali 9 buku saja. Ya itu yang antologi tunggal, belum yang tidak dipublikasikan. Atau yang dimuat di media dan tidak dibukukan,” katanya saat ditanya jumlah puisi yang sudah ditulisnya.

Ia menceritakan bahwa banyak kesan dan pengalaman dalam menulis puisi. Ia mengungkapkan, semuanya menarik dalam menulis puisi.

Kegemarannya menulis puisi menjadikannya suka berpikir. Terutama dalam mempelajari suatu masalah.

“Salah satu yang bisa disebutkan adalah pengalaman menarik bisa ketemu atau melihat secara langsung tokoh inspiratif yaitu dengan K.H. Mustofa Bisri di acara Muktamar Sastra 2018 di Situbondo,” jelasnya.

Ia menceritakan, pernah mengalami hal yang mengharukan yaitu ketika ia kawan-kawan sanggarnya kesusahan menyelenggarakan Festival Puisi Bangkalan dari jilid 1 hingga  5.

Awal mulanya ia menggeluti sastra puisi berawal dari kebutuhan teater yang menciptakan banyak ruang untuk menulis. Seperti menulis naskah pertunjukan atau drama. Dari situ kebiasaan menulisnya muncul, termasuk menulis puisi..

Katanya, mencintai sastra itu lebih pada suka memaknai sesuatu. “Saya lebih suka puisi yang bergenre romantik. Terutama yang bergaya liris seperti bercerita dan kata-katanya gak jumpalitan,” imbuhnya.

Sejak sekolah dasar (SD) hingga menginjak sekolah menengah pertama (SMP). Helmy sudah menyukai dunia sastra. Namun, saat remaja, ia mengaku belum bisa menulis puisi. Namun, ketika menginjak sekolah menengah atas (SMA) baru memulai menulis sastra.

Ia mulai serius menulis puisi ketika masa SMA, karena waktu itu ikut ekstra teater yang juga mengharuskannya menulis naskah drama. Pada tahun 1998-1999, ia menulis puisi secara intens. Ia  menghasilkan ratusan karya dan meraih banyak penghargaan.

“Sekarang, selain di sastra, membangun juga gerakan seni rupa “Manifesto Idiot” yang bulan Agustus nanti akan ada pameran publik,” pungkas lelaki kelahiran 1977 itu. (ina/maf)

Komentar

News Feed