Produsen Lokal Madura Berebut Pasar Menggiurkan Air Minum Kemasan

News24 Dilihat

KABARMADURA.ID | Pasar produk air minum dalam kemasan mulai menggiurkan. Pertumbuhannya di tingkat lokal Madura juga cukup pesat. Menawarkan harga lebih terjangkau, mereka lantang bersaing dengan produk-produk lama yang pasarnya sudah menjamah seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan catatan Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan (DPMPTSP Naker) Pamekasan, sudah ada 39 produsen AMDK lokal yang memiliki izin dan telah beroperasi. Di tahun 2022 ini, sudah ada 9 perusahaan yang sedang mengurus perizinannya.

Sedangkan di Bangkalan, Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Bangkalan mendata, sedikitnya ada 39 perusahaan air minum, meliputi 38 industri kecil dan 1 industri besar.

Di Sumenep, tercatat sebanyak 23 produsen AMDK yang telah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP dan Naker) Sumenep.

Kepala Seksi (Kasi) Perdagangan Dalam dan Luar Negeri Disperindag Pamekasan Harsya Budi Bakhtiar menyampaikan, tidak ada aturan khusus tentang peredaran AMDK. Yang berlaku adalah mekanisme pasar. Namun diakuinya, cukup banyak bermunculan pabrik-pabrik lokal Pamekasan maupun Madura yang cukup bersaing di pasaran.

“Pabrikan lokal cukup intens dan masif pemasarannya, saya mendapatkan informasi bahwa pabrikan besar mulai kelabakan juga di persaingan AMDK lokal. Secara strategi pemasaran, bisa dikatakan cukup bersaing, tidak kalah dengan perusahaan multinasional, jaringannya merata, mulai dari kota sampai ke pelosok desa,” urainya.

Baca Juga :  3 Desa di Sampang Berhasil Capai Status Mandiri

Sebelum proses peredaran di pasaran, terdapat beberapa teknis yang perlu dipenuhi, antara lain sertifikasi halal, uji mutu kualitas air, dan izin Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut catatan Disperindag Pamekasan, merek AMDK lokal yang cukup mendominasi pasar Pamekasan seperti Nuri, HK, Adeni, dan Labini.

“Kami melakukan pengawasan rutin ke pabrikannya, mengontrol proses legalitas, jadi dari hulu ke hilir kami selalu pantau,” ujarnya.

Kepala Disperinaker Bangkalan Salman Hidayat mengaku tidak mengetahui apakah 39 produsen tersebut masih tetap aktif memproduksi AMDK atau tidak.

Pihaknya hanya mengetahui sebagian, seperti PT. Madura Investama merek ARMA di Desa Pocong Kecamatan Tragah, UD. Aguna merek Ambami di Kecamatan Blega, CV. Family Mart merek Martajasah di Desa Martajasah Bangkalan, CV. Gunung Mas Sejahtera merek SAE Jalam Halim Perdana Kusuma, Kelurahan Mlajah, Bangkalan.

“Yang PT. Madura Investama ini perusahaan besar, sudah masuk ke Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS). Ambami milik kepala desa (kades) Blega. SAE cukup familiar di masayarakat umum. Kalau Martajasah, rata-rata santri dan alumni,” papar Salman.

Sebanyak 23 perusahaan AMDK di Sumenep tersebut, kata Kepala DPMPTSP dan Naker Sumenep Abd. Rahman Riadi melalui Kepala Bidang (Kabid) Perizinan dan Non Perizinan Moch. Saiful Rizal, semua perusahaan tersebut sudah berproduksi.

Baca Juga :  Lokasi Proyek Gedung DPRD Sumenep Rentan Kebanjiran

Perusahaan AMDK itu seperti CV Adipodai Tirta Utama di Desa Pancor Kecamatan Gayam dangan merek A-Z, AMDK milik CV Baina Basukarta di Desa Pakandangan Tengah, Kecamatan Bluto, PT Sultan Jaya Mandiri di Desa Kelianget Timur Kecamatan Kalinget, merek Blue E- Nol.

Termasuk juga air kemasan di pesantren- pesantren, misalnya di Pesantren Al-Amin, Prenduan yang juga memiliki produk AMDK yang dijual bebas di pasaran.

“Mengenai merek, didaftarkan produsen ke Kemnenkum HAM, jadi kami tidak begitu tahu mengenai merek masing-masing perusahaan itu,” kata Rizal, Minggu (27/11/2022).

Menurut Hafira, warga asal Bluto, air minum kemasan di Sumenep yang sering dibeli adalah merek Cleo. Sedangkan untuk AMDK lokal, merek Chellep yang paling diminati, utamanya untuk acara-acara yang digelar warga.

“Saat ini banyak di toko-toko seperti Cleo, Chellep, serta air di pondok pesantren yang menyebar di toko-toko, sebagian juga di koperasi pondok pesantren,” ungkap Hafira.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua DPRD Pamekasan Khairul Umam, bersaingnya produk lokal Pamekasan sangat baik, karena bisa mengangkat perekonomian masyarakat. Hanya saja, untuk mutu air dan izinnya, Pemkab Pamekasan diminta untuk melakukan pemeriksaan secara berkala, supaya kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal bisa semakin meningkat.

Baca Juga :  Kawal Tuntutan Mahasiswa, DPRD Sumenep Surati DPR RI

“Saya pikir bersaingnya produk lokal Pamekasan ini bagus untuk pertumbuhan ekonomi Pamekasan,” ujarnya.

PERUSAHAAN AMDK LOKAL MADURA 

SUMENEP

  1. PT. SARIGUNA PRIMATIRTA
  2. KOPONTREN AUBA
  3. YAYASAN KH. FAYYADL AS’AD
  4. KOPONTREN AL – AMIN PRENDUAN SUMENEP
  5. PT. QOMAR JAYA NUSANTARA
  6. KOPONTREN AN-NUQQAYYAH
  7. CV. TIARA ABADI
  8. CV. R.A. JAYA
  9. PT. SULTHAN JAYA MANDIRI
  10. KOPERASI PONPES AL – ANWAR
  11. CV. ASHAL TIRTA MULIA
  12. CV. SUMBER BATU
  13. CV. AL – MU’EIN
  14. CV. NORAMAYA BERKEMBAR
  15. CV. BAINA BASUKARTA
  16. CV. SEMBILAN SATU ENAM
  17. CV. ADIPODAY TIRTA UTAMA
  18. CV. HANS PUTRA KANGEAN
  19. KOPPONTREN AUBA
  20. CV. GOLD BAROKAH IMAN
  21. KOPERASI PONDOK PESANTREN BUSTANUL ULUM
  22. CV. MAHERA GROUP
  23. YAYASAN ASSADAD

PAMEKASAN

Merek Nuri, HK, Adeni, dan Labini

BANGKALAN

  • Madura Investama merek ARMA di Desa Pocong Kecamatan Tragah
  • Aguna merek Ambami di Kecamatan Blega
  • Family Mart merek Martajasah di Desa Martajasah
  • Gunung Mas Sejahtera merek SAE di Jalam Halim Perdana Kusuma, Bangkalan

Sumber: DPMPTSP Naker Pamekasan, Disperinaker Bangkalan, DPMPTSP dan Naker Sumenep

Reporter: Khoyrul Umam Syarif, Fathurrohman, Imam Mahdi  

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *