oleh

Program AUTS di Sumenep Minim Peminat

KABARMADURA.ID, Sumeneop – Hingga saat ini program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) di Kabupaten Sumenep ampuh mendongkrak minat masyarakat. Akibatnya realisasi AUTS menjadi PR besar bagi pemerintah daerah. Indikasinya kurang lebih dari 367 ribu sapi, hanya terdapat 27 peserta yang menggeluti program tersebut.

Kondisi tersebut belum menunjukkan perkembangan dari bulan sebelumnya. Hal ini diungkapkan, Kepala Dinas (Kadis) Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), Sumenep, Bambang Heriyanto, melalui Kepala bidang (Kabid) Produksi dan Pengembangan Usaha Peternakan, Arman Mustafa, Minggu (27/09/2020).

Menurutnya, program AUTS masih minim peminat lantaran,peternak sapi belum memahami tentang pentingnya AUTS. Padahal, sosialisasi terhadap masyarakat sudah dilakukan. “Program AUTS sangat penting bagi kesejahteraan sapi kedepannya, misalnya pada waktu sapi sakit dan kecelakaan lainnya,” ujarnya.

Diketahui, program tersebut hanya diikuti satu Kecamatan. Yakni, Kecamatan Bluto. Masing-masing, desa Gingging dan Desa Aengdake. Rinciannya, Desa Aengdake 17 sapi dan di Desa Gingging sebanyak 10 sapi. “Saat ini masih belum ada perkembangan,” paparnya.

Pihaknya menegaskan pentingnya program  AUTS yakni sebagai biaya pengganti premi yakni harganya Rp10 juta dan premi yang disubsidi Rp160 ribu. Peternak membayar Rp40 ribu per ekor untuk perlindungan satu tahun. “Sosialisasi saat ini telah disampaikan pada pihak kecamatan untuk disampaikan pada desa-desa,” tegasnya.

Dia berjanji akan mengundang tim Jasindo untuk melakukan sosialisasi pada masyarakat. Sehingga kepesertaan AUTS semakin meningkat. Salah satu langkah untuk menanggulangi minimnya kepesertaan hanya bisa melakukan sosialisasi. Setidaknya dua kali dalam satu tahun. “memang harus ada peningkatan. Karena, sangat penting untuk dilakukan,” katanya. .

Dijelaskan, sapi Sumenep merupakan hewan ternak terbanyak di Madura. Kondisi itu, terpusat pada Kecamatan Guluk-guluk, Ganding, serta Lenteng (LuGanTeng). Menurutnya, klaim asuransi bisa dijadikan peternak sebagai modal untuk membeli ternak sapi kembali. Sehingga usaha peternakan sapi tetap berlanjut. “Populasi ternak sapi terbanyak yakni sebanyak 367.362 ekor,” tukasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengatakan, perlu adanya evaluasi dan menjadi PR besar terhadap Dinas terkait minimnya peminat AUTS. Sebab, ada dua kemungkinan yang menyebabkan minimnya peminat. Pertama Dinas terkait hanya mensosialisasikan secara formalitas serta tidak pernah melakukan sosialisasi di daerah pedesaan.

“Padahal di desa juga merupakan orang awam yang harus diberi perhatian lebih. Kami masih mau mengkaji, setelah itu akan dilakukan rembuk bersama dinas terkait mengenai minimnya peminat,” responnya.

Salah satu peternak sapi Suamna (45) Asal Desa Lobuk Kecamatan Bluto mengatakan, dirinya memang tidak mengetahui program AUTS tersebut. Dia hanya mendapat sosialisasi memberikan makanan sapi serta tata cara beternak sapi. “Saya tidak tahu apa-apa mengenai program pemerintah itu,” tegasnya.

Dia mengaku, tidak mau ambil pusing mengenai hal tersebut, terpenting merawat sapi dengan baik itu sudah cukup. Terlebih jika harus membayar tidak akan pernah menjadi kepesertaan. “Kalau masih ada dana yang keluar dari kantong tidak mau ikut. Mending fokus membesarkan sapi dengan biaya yang cukup terjangkau,” tukasnya. (imd/ito)

 

 

 

 

Komentar

News Feed