Program Bozem di Sumenep Terganjal Anggaran

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) TIDAK JELAS: Lahan garam yang rencananya akan dijadikan tempat penampungan  air atau bozem ketika musim penghujan belum jelas realisasinya. 

KABARMADURA.ID, Sumenep – Upaya serius dari pemerintah kabupaten (Pemkab) Sumenep untuk menyediakan tempat penampungan air ketika hujan atau bozem perlu ditingkatkan. Sebab, pembangunan penampungan air itu sudah direncanakan di lahan PT Garam. Namun hingga saat ini kelanjutan mengenai pembangunannya tidak jelas.

Anggota Komisi III DPRD Sumenep Akhmad Zainur Rakhman mengatakan pembangunan bozem merupakan kegiatan yang berada di Dinas Pkerjaan Umum Sumber Daya Air (SDA) dan Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPRKP dan CK) Sumenep. Rencana pembangunan untuk menampung luapan air dari sungai.

Bacaan Lainnya

“Pemkab harus serius dalam pengadaan Bozem. Sebab, saat ini sudah memasuki musim hujan khawatir air di sungai. Khususnya di Sungai sarokah meluap. Setidaknya, pembuangnya di kali sarokoh pada waktu pasang bisa tertampung di bozem. Kemudian, dari jaringan drainase ditarik ke bozem dengan memakai pompa,” ujarnya, Senin (19/10/2020).

Pihaknya merasa kecewa terhadap dua dinas yang menangani program bozem. Sebab, program itu sudah direncanakan dengan matang dan kesepakatan. Jika musim penghujan bozem bisa dijadikan sebagai tempat penampungan luapan air sungai. Sebaliknya, di musim kemarau bisa dijadikan sebagai tempat  penuaan garam. “Namun hingga saat ini ngambang,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala DPRKP dan CK, Sumenep Moh. Jakfar mengatakan, program tersebut belum dianggarkan. Namun, sesuai rencana akan menggunakan lahan di PT Garam yang terletak di Desa Nambekor, Kecamatan Saronggi “Saat ini masih proses mas,” dalihnya ketika dikonfirmasi oleh Kabar Madura.

Jika jadi, nantinya di lahan PT Garam akan dibuat kesepakatan. Bahkan, jika perlu akan dibeli untuk bozem. Dengan demikian potensi banjir atau genangan akan berkurang.Diharapkan, genangan air hujan yang berada di sekitar jalan bisa masuk ke dalam bozem sebagai penampungan sementara. Setelah bozem penuh, baru kemudian dialirkan.

“Masih direncanakan. Karena, anggarannya belum ada. Nanti air hujan yang ada di sekitar sini, ditarik masuk ke bozem biar tidak turun langsung ke sekitar jalan raya,” paparnya.

Senada diungkapkan,  Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (SDA) Sumenep, Chainur Rasyid. menurutnya, dalam mengantisipasi banjir atau genangan saat ini sudah melakukan normalisasi sungai secara optimal. Bahkan dalam setiap tahun diperlebar. “Jika masalah nozem saat ini masih belum ada anggaran. Karena, anggarannya sudah diproritaskan pada pelebaran sungai,” pungkasnya. (imd/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *