Program e-Maos Pamekasan Hanya Dibaca Semenit per Pekan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) BANTUAN: Pemkab Pamekasan proyeksikan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada guru non kategori.  

Kabarmadura.id/Pamekasan –Semenjak ditutupnya pelayanan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Pamekasan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Pamekasan, pengunjung Perpusda diarahkan untuk mengakses koleksi buku via online atau e-Maos untuk tetap bisa menerima layanan Perpusda Pamekasan secara digital.

Pustakwan (DPK) Pamekasan Kusairi mengatakan, aplikasi e-Maos maerupakan perpustakaan digital yang diproyeksikan pihaknya untuk seluruh warga Pamekasan agar bisa dengan mudah mengakses koleksi buku yang disediakan oleh DPK.

Akan tetapi menurutnya, selama satu bulan terakhir pengguna e-Maos mengalami penurunan baik pendaftar, pengunjung, dan pembaca ketimbang awal bulan April.

Bahkan, ungkapnya, dalam satu pekan tercatat hanya ada dua orang pendaftar e-Maos, 20 orang pengunjung, dan empat orang pembaca. Lebih parahnya lagi, durasi baca yang hanya satu menit dalam satu pekan.

“Layanan difokuskan ke koleksi digital melalui aplikasi e-Maos dan layanan intrenet namun berbatas tidak lagi 24 jam. Hal itu untuk menghindari ada kerumunan pemustaka di area perpustakaan,” ungkapnya.

Kendati demikian, menurut Kusairi, selama mewabahnya Covid-19 pihaknya telah melakukan sejumlah kegiatan, diantaranya, street library di depan Perpusda, dan menjadikan sejumlah taman baca masyarakat (TBM) sebagai mitra dan telah melakukan kerja sama dengan DKP, yaitu rumah baca Kaffa di Palengaan pada pekan pertama bulan Mei.

“Kalau kegiatan lainnya selama pandemi ini, perpustakaan baru membuat street library sebagai icon compok peadaban perpustakaan di depan Perpusda, sedangkan kemitraan dengan TBM baru yang telah melakukan MoU yaitu Rumah Baca Kaffa di Palengaan,” paaprnya.

Sementara itu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Alfian Rhomadani memaklumi kondisi tersebut. Menurutnya, pengunjung e-Maos, selain karena wabah Covid-19 yang membuat banyak pihak merasa sulit di berbagai sektor, jumlah koleksi buku yang tidak selengkap secara manual, serta keleluasaan membaca yang tidak seleluasa membaca langsung di Perpusda membuat warga Pamekasan enggan untuk mengakses e-Maos.

“Koleksi bukunya tidak selengkap di perpustakaan nyata, jadi wajar karena opsinya lebih sedikit, sementara pembaca memiliki keminatan yang beragam. Selain itu, membaca di handphone dengan membaca bukunya langsung jelas lebih leluasa membaca bukunya langsung,” ujarnya. (ali/ong/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *