oleh

Program Integrasi Lahan Garam Kurang Diminati

Kabarmadura.id/Sampang-Program integrasi lahan garam di Kabupaten Sampang, belum maksimal. Meski sudah direalisasikan sejak 2017 lalu, luasan lahan garam yang menggunakan sistem integrasi tidak ada peningkatan signifikan. Hal itu terjadi, lantaran program itu kurang diminati oleh petani garam.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan dan Budidaya Dinas Perikanan Sampang Moh. Mahfud mengaku, pihaknya kesulitan untuk mendorong petani garam mengikuti program integrasi lahan tersebut.

Diungkapkannya, mayoritas petani garam di wilayahnya lebih memilih untuk mengelola lahan garam secara mandiri. Para petani merasa lebih leluasa mengelola lahan garam mereka, dari pada harus mengikuti program lahan integrasi yang menyatukan beberapa lahan dalam satu manajemen pengolahan garam.

Pihaknya menjelaskan, saat ini baru ada dua desa yang mengikuti program integrasi lahan tersebut, yakni Desa Disanah dan Desa Marparan Kecamatan Sreseh. Dirinya meyakini, tahun 2020 mendatang, jumlah desa yang menggunakan sistem integrasi lahan garam akan bertambah.

“Pada tahun 2020 mendatang kami mengusulkan sekitar 20 hektar lahan garam di Desa Sreseh dalam program integrasi lahan garam ini,” terangnya saat dikonfirmasi Kabar Madura, Senin (2/12/2019).

Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, pihaknya hanya sebatas mengajukan lokasi atau lahan garam yang akan digarap menjadi lahan terintegrasi. Sementara, proses penghitungan estimasi anggaran yang dibutuhkan untuk program itu, langsung ditentukan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Mahfud mengaku sudah sering melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait tujuan, manfaat dan keunggulan program integrasi lahan garam. Harapannya, masyarakat bisa tahu, menyadari dan bisa bersinergi dalam mendukung realisasi program itu secara maksimal.

Bahkan, saat ini pihaknya terus memberdayakan para tenaga penyuluh di berbagai wilayah, untuk mengajak para petani garam, agar ikut program integrasi lahan yang juga bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas garam rakyat.

Di samping itu, pihaknya mengaku sudah memberikan percontohan untuk menarik minat petani garam. Namun semua upaya tersebut belum membuahkan hasil sesuai harapan, karena kesadaran masyarakat relatif rendah.

“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin agar program integrasi lahan ini lebih maksimal dan merata, tetapi kesadaran masyarakat untuk ikut masih rendah. Makanya tahun 2020 hanya mengajukan satu desa, karena peminatnya sedikit,” terangnya.

Sementara itu, Sulaiman (45) salah satu petani garam asal Sampang meminta, agar sosialisasi tentang manfaat dan keunggulan program lahan terintegrasi lebih ditingkatkan dan lebih masif, karena banyak petani garam yang belum tahu soal program itu. Sehingga dirinya mengaku tidak heran jika program itu tidak diminati.

Dirinya berharap, program integrasi lahan betul-betul bisa memperbaiki nasib petani garam, khususnya di Sampang. Oleh karenanya, dirinya meminta pemerintah harus lebih gencar mensosialisasikan dan bisa memberikan pendampingan kepada para petani, agar semua petani bisa ikut program lahan terintegrasi.

“Saya tidak tahu program integrasi lahan ini, apa dan manfaatnya kepada petani, kalau untuk memperbaiki nasib kita sebagai petani, tentunya kami siap mengikuti,” singkatnya. (sub/pin)

 

Komentar

News Feed