Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan di DLH Sumenep Harus Dimaksimalkan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) KEBERSIHAN: Di musim hujan perawatan lingkungan tidak boleh terabaikan. Program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan perlu dimaksimalkan.

KABARMADURA.ID | SUMENEP -Di musim hujan perlu adanya lingkungan yang bersih. Sebab, jika tidak akan menjadi pemicu terjadinya banjir. Sementara kebersihan lingkungan di Sumenep dinilai belum maksimal. Bahkan program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dianggap tidak jelas.

Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan DLH Sumenep Farida mengatakan, upaya DLH dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan sudah dilakukan. Namun, saat ini program tersebut belum menyentuh secara keseluruhan. Salah satunya di Kalianget yang saat ini belum dapat dibersihkan.

Bacaan Lainnya

“Program pengendalian pencemaran yakni membersihkan lingkungan dan mengangkut sampah. Seperti kayu, serta sampah lainnya,” katanya, Senin (22/11/2021)

Dikatakan Farida, dalam menjalankan program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan melibatkan sekitar 20 orang personel. Mereka ditugaskan untuk membersihkan sampah kayu maupun sampah lainnya.

“Program tersebut dianggarkan Rp75 juta yang selebihnya untuk gaji pekerja. Dalam setiap orang Rp100 ribu,” ucap dia.

Farida melanjutkan, di antara pelaksanaan program tersebut yakni, mengatur sistem pembuangan limbah industri. Melakukan penghijauan, memberikan sanksi atau hukuman secara tegas terhadap pelaku kegiatan yang mencemari lingkungan, melakukan penyuluhan dan pendidikan lingkungan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti dan manfaat lingkungan hidup yang sesungguhnya.

“Kami sudah melakukan hal tersebut. Tetapi, masyarakat masih belum sadar akan pentingnya lingkungan bersih,” ucap dia.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Sumenep Akhmad Zainur Rakhman mengatakan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan perlu dimaksimalkan. Sebab, di masa musim hujan akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Misalnya, banjir serta longsor dan lainnya.

“DLH harus terus melakukan pendampingan terhadap pekerja pembersih lingkungan. Kemudian, para pekerja digodok untuk bekerja dalam merawat lingkungan,” pungkasnya.

Reporter: Imam Mahdi

Redaktur: Mohammad Khairul Umam

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *