oleh

Program Pengentasan Buta Aksara Terbengkalai, Disdik Salahkan APBN

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan tampak kecewa dengan pemerintah pusat. Sebab, tidak ada sokongan anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) dalam program Keaksaraan Fungsional (KF). Itu untuk menekan angka buta aksara.

Tahun ini, Disdik harus merealisasikan program tersebut dari APBD. Akibatnya, program penuntasan buta aksara berjalan tidak maksimal.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Moch. Tarsun mengatakan, sejak digagas pada tahun 2016 lalu, program KF belum bisa menuntaskan angka buta aksara di daerah berpredikat Kabupaten Pendidikan itu. Pada tahun itu, prospek program KF untuk menekan angka buta aksara masih sangat baik.

Tarsun mengklaim, saat ini prosentase jumlah penduduk buta aksara di Pamekasan terendah dari kabupaten lain di Jawa Timur. Sekitar 2 persen dari sekitar 800 ribu lebih warga di Bumi Pamelingan yang belum melek baca.

Kendati secara prosentase jumlah penduduk yang belum bisa baca tulis terbilang kecil,  secara angka tercatat masih ada sekitar belasan ribu warga Pamekasan yang belum terbebas dari buta aksara.

“Secara persentase statistik kita terendah di Jawa Timur. Kita di bawah 5 persen yang menjadi target provinsi,” katanya, Selasa (12/3).

Diakui Tarsun, saat ini pihaknya tidak bisa menggelar program KF secara serentak di 13 kecamatan dalam satu tahun anggaran. Hal itu disebabkan, sokongan anggaran, baik yang bersumber dari APBN maupun APBD Provinsi sudah tidak lagi diterima.

Oleh karenanya, realisasi program KF untuk pengentasan buta aksara akan dilakukan melalui basis kecamatan. Teknisnya, Disdik akan mendata setiap kecamatan yang memiliki jumlah warga buta aksara terbesar, untuk kemudian menjadi prioritas program KF.

“Untuk anggaran hanya APBD. Jadi, kita ambil satu persatu kecamatan setiap tahun,” terangnya.

Anggota DPRD Pamekasan, Moh. Ali meminta agar program KF bisa lebih ditingkatkan. Sebab, dia melihat penurunan angka buta aksara selama program itu dijalankan masih cukup rendah.

Tercatat pada tahun 2016, jumlah warga yang mengalami buta aksara sebanyak 18.016 orang. Sementara pada tahun 2017, jumlah buta aksara turun sebanyak 250 orang menjadi 17.766. Kemudian, pada tahun 2018 kembali bertambah menjadi sekitar 18 ribu orang.

“Artinya kan belum ada perubahan yang signifikan dari sebelum ada program itu dengan sesudah adanya program KF itu,” tegasnya. (pin/nam)

Komentar

News Feed