Program Satu Rekening Satu Pelajar Tak Diminati Pelajar di Bangkalan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) SANTAI: Beberapa siswa saat berada di area Stadion Gelora Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Program Kick Off atau program satu pelajar satu rekening tidak berjalan optimal di tahun 2021. Pasalnya dari ribuan siswa yang ada hanya ratusan siswa yang merasakan program tersebut. Selain itu, program tersebut juga dinilai kurang efektif. Sebab, bantuan yang diberikan jumlahnya minim.

Program itu disebut juga program Kejar ke SMA/SMK yang dicanangkan pada tahun 2020 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan (Disdik). Tetapi di tahun kedua, program tersebut tidak dimanfaatkan oleh peserta didik.

Bacaan Lainnya

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Bangkalan Sunarto tidak memungkiri bahwa kelangsungan program Kick Off kurang maksimal. Jumlah siswa yang ada di Kabupaten Bangkalan untuk SMA saja sekitar 6.007 dan SMK ada 6.714. Sementara nomor rekening yang sudah tercetak di 2020 lalu masih sekitar 200 peserta didik.

”Itu yang dibuatkan, ribuan siswa lainnya melakukan pengajuan. Nantinya pihak perbankan yang akan berkoordinasi dengan cabang dinas,” terangnya.

Pihaknya mengatakan di tahun 2021 belum ada pengajuan. Cabang Dinas menilai kurang ketertarikan pada peserta didik untuk mengikuti program ini. “Mereka seolah memang tidak berminat, karena tidak mengajukan lagi tahun ini,” paparnya.

Padahal siswa yang membuat nomor rekening tidak dipungut biaya. Bahkan mendapatkan saldo Rp50 ribu. ”Siswa yang dibuatkan rekening hanya 200 anak ditambah penerima PIP,” terangnya.

Mayoritas siswa yang telah mendapatkan rekening tidak semuanya difungsikan. ”Setelah diberikan rekening sudah sampai di situ. Kalau siswa tidak ada uang yang ditabungkan, kadang kala juga ditabung melalui sekolahnya masing-masing,” terangnya.

Tambahnya, jika ada pengajuan yang diprioritaskan yakni siswa tidak mampu dan tidak terdaftar Program Indonesia Pintar (PIP).

”Di dapodik kan terdata siswa yang  tidak mampu dan tidak punya PIP. Kalau anak pejabat uang Rp50 ribu itu sedikit,” jelasnya.

Sedangkan menurut salah satu siswa SMAN 3 Bangkalan Khoiruddin, bantuan tersebut dinilai kurang efektif. Apalagi yang diberikan hanya rekening dan saldo Rp50 ribu. Sedangkan semua siswa kemungkinan sudah memiliki tabungan rekening masing-masing.

“Kalau diberikan uangnya mungkin masih bisa dimanfaatkan, kalau bentuknya saldo kan juga tidak bisa dinikmati siswa,” tutupnya. (hel/maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *