Program Sekolah Sungai Belum Efektif

  • Whatsapp
GAGAL: Program sekolah sungai yang digalakkan BPBD Kabupaten Sampang gagal wujudkan kondisi sungai yang bersih, sehingga perlu dievaluasi.

Kabarmadura.id/Sampang-Program sekolah sungai yang digalakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, belum berhasil dan efektif dalam menciptakan kondisi sungai yang bebas dari sampah, serta membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai.

Kepala BPBD Sampang Moh Anang Junaidi mengatakan, selama 4 bulan terakhir, program sekolah sungai di Kota Bahari tidak berjalan atau mendeg. Pihaknya berdalih masih fokus terhadap upaya penanganan bencana kekeringan yang terjadi di wilayah itu.

Kata Anang (sapaan akrabnya), salah satu tujuan digalakkannya program sekolah sungai itu, yakni membangun kesadaran masyarakat, khususnya warga yang berada di sekitar pinggiran sungai, untuk menjaga kondisi sungai, tidak membuang sampah sembarangan dan sebagainya.

Sayangnya, hingga kini program tersebut tidak berjalan maksimal. Indikasinya, masih banyak sampah berserakan dan menumpuk di berbagai titik sungai dan perlu dilakukan evaluasi terkait penyelenggaraannya.

“Untuk saat ini, kami masih fokus terhadap upaya penanganan bencana kekeringan, sehingga program sekolah sungai masih vakum dulu, mengingat tidak adanya anggaran untuk menggaji para anggota dan relawan yang melakukan motivasi kepada masyarakat, utamanya di wilayah bantaran sungai kemuning,” dalih Anang, Minggu (29/9).

Anang membeberkan, pada tahun 2020 mendatang, terdapat sebanyak 30 orang anggota sekolah sungai yang akan diberikan honor dengan total Rp200 juta setiap tahun. Dana tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Lanjut dia, tahun ini tidak ada anggaran khusus untuk program sekolah guna membayar para anggota. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa memaksa para anggota untuk bekerja terus, karena memang tidak ada dana, hanya sebatas tenaga suka relawan.

“Kami tidak bisa memaksa, karena para anggota tidak ada honor, tetapi kalau tahun dapan sudah ada honornya yang disediakan oleh pemerintah Jatim,” kelitnya.

Untuk itu, Anang berharap, masyarakat kota Bahari bisa menyadari kondisi yang ada saat ini. Ia meminta masyarakat dapat bahu-membahu, bekerja sama dalam menjaga kebersihan sungai. Karena kebersihan sungai itu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya instansinya.

“Sungai ini, milik kita bersama, maka rawatlah bersama, jangan terlalu bergantung terhadap pemerintah, kami juga terbatas kemampuannya, harap sama-sama menyadari dan merasa memiliki,” tukas Anang. (sub/pin).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *