oleh

PSBB Surabaya Jadi Kesempatan Permainkan Harga Ayam dan Telur

Kabarmadura.id/Bangkalan-Akibat wabah Covid-19 yang melanda Bangkalan dan mulai diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, membuat peternak ayam di Bangkalan mulai merugi.

Pasalnya, Surabaya merupakan daerah jalur pemasok kebutuhan di Pulau Madura, sehingga minim pesanan akibat banyak restoran dan acara pernikahan ditunda.

Akibat pemesanan daging ayam yang menyusut drastis, para peternak ayam hanya bisa menjual kepada tengkulak daging ayam di pasar.

“Secara umum peternak terdampak akibat turunnya harga jual oleh karena demand dan suplay tidak berimbang. Ayam atau telur banyak membanjiri pasar bangkalan dari daerah yang selama ini jadi sentra penghasil akibat banyaknya restoran dan perusahaan, mereka yang tutup,” kata Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Bangkalan, Ahmad Hafidz, Minggu (3/5/2020).

“Sehingga peternak lokal agak terpukul akibat harga tidak bisa bersaing, sepi pemesan atau pembeli lokal, di samping hajatan dan pesta nikahan tidak bisa dilaksanakan,” imbuhnya.

Hafidz mengaku sudah menugaskan pejabat dan staf terkait untuk melakukan melihat secara langsung kondisi peternak. Dari hasil turun ke lapangan secara langsung tersebut, Hafidz menemukan penyebab turunnya harga telur dan ayam, yakni karena peternak ayam dan petelur memiliki stok melimpah dari luar daerah yang dibeli dengan harga lebih murah.

“Harapannya telur yang masuk dari daerah lain dibatasi oleh pemkab, harga obat-obatan mahal, harga pakan masih terkendali tapi mendekati kemarau pakan akan naik,” terangnya.

Adanya permasalahan ini, dirinya menuturkan, sudah laporkan kepada sekretaris daerah (sekda) Kabupaten Bangkalan. Untuk kegiatan peternakan dalam rangka untuk penanganan peternak terdampak dengan keterbatasan anggaran. Dia berencana memberika vaksin gratis masuk dalam Gerakan Vaksinasi Ayam Seratus Ribu (KASI IBU).

“Kami juga akan memberikan pembinaan pemberdayaan poktan ternak terdampak. Peternak sapi khususnya peternak sapi rakyat terdampak kami akan berikan progran ‘Menawan Hati’ yaitu memeriksa dan mengobati hewan secarah gratis,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Hafidz mengungkapkan, akibat dampak Covid-19 ini peternak banyak berharap dari pemerintah. Seperti, subsidi untuk pembelian obat-obatan, fasilitas pinjaman lunak dari pemerintah.

“Peternak juga memerlukan sprayer atau alat penyemprota,” tutupnya.

Sementara berdasarkan pantauan Kabar Madura, harga ayam hidup di kandang selalu di bawah HPP. Ayam hidup sekitar Rp10-20 ribu per kilogramnya. Sedangkan, harga daging ayam di pedagang masih di atas normal seperti biasanya yakni sekitar Rp30-37 ribu per kilogramnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed