oleh

Psikolog Diragukan Bersedia Temani Bocah 8 Tahun Terinfeksi Covid-19

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Bocah umur 8 tahun yang dinyatakan terinfeksi Covid-19 berdasarkan rapid test, telah diisolasi di Balai Diklat Bangkalan. Namun, yang menemani bocah itu hanya seorang pembantunya yang tidak terinfeksi Covid-19.

Hal itu terpaksa dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan, dengan alasan untuk memutus rantai penularan wabah ini.

Anak tersebut terdeteksi terinfeksi dari hasil pelacakan yang telah dilakukan oleh Dinkes Bangkalan dari pasien terinfeksi Covid-19 dengan kode nomor 03 dan nomor 04.

Sebab, setelah pasangan suami istri asal Klampis itu dinyatakan terinfeksi Covid-19, Dinkes Bangkalan melacak seluruh orang yang pernah kontak dengan keduanya.

“Kondisinya membaik, sehat. Saat ini tengah berada di ruang isolasi yang kami siapkan di Balai Diklat,” ungkap Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo.

Dirinya mengakui telah meminta pembantunya untuk menemani si anak tersebut agar tidak sendirian dan terlantar ketika berada di gedung isolasi. Dengan terpaksa Dinkes membawa pembantunya yang masih sehat dan tidak terpapar Covid-19.

Anak tersebut masuk kategori orang tanpa gejala (OTG), sehingga tidak dilabeli status sebagai pasien. Sedangkan pembantunya yang ikut, kemudian berlabel orang dengan resiko (ODR).

“Daripada pembiaran anak 8 tahun, malah melanggar HAM,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Nur Hasan memaklumi usaha untuk mendampingi bocah itu. Sebab, mau tidak mau, memang harus ada yang mengawasi anak itu, meski bukan dari tenaga medis.

Menurutnya, jika memang harus didampingi oleh psikolog anak, dia tidak yakin ada psikolog bersedia, terlebih di tengah orang yang terinfeksi virus. Namun dia meminta, minimal pananganan anak ini dibedakan dengan penanganan orang dewasa.

“Pertanyaannya sekarang, ada yang mau tidak psikolog mendampingi anak ini? Yang jelas minimal pihak Dinkes atau media tidak membiarkan anak ini terlantar. Jangan sampai itu,” tegasnya.

Politisi asal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga menekankan pada Dinkes agar memberikanpendampingan dan penanganan yang berbeda untuk psikologisnya. Karena, memang tidak ada psikolog yang mau mendampingi. Menurutnya, anak harus dibuat bahagia dan diberikan sesuai dengen kebutuhan anak.

“Saya cuma minta untuk makanan anak ini dibedakan, jangan sampai disamakan dengan OTG yang dewasa. Anak-anak kan suka snack dan makanan-makanan ringan. Jadi penuhi itu, juga agar tidak stres minimal berikan mainan seperti playstation agar anak tidak stres dan imunnya kuat,” tandasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed