oleh

Psikolog Disebut Ogah Bertugas di Sumenep

Kabarmadura.id/SUMENEP-Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Sumenep belum maksimal dalam mendampingi korban kekerasan anak. Salah satu cara mendampinginya, adalah dengan memberi pelayanan pendampingan psiklog. Namun cara itu hanya diberikan jika ada permintaan dari kerabat korban.

Kepala UPT Perlindungan Perempuan DP3AKB Sumenep Diana mengakui, untuk pelayanan pendampingan psikolog memang belum disediakan tenaga ahli di bidangnya. Bahkan diklaim sangat sulit untuk mencari atau menyediakan tenaga ahli psikolog yang bersedia ditugaskan di Sumenep.

“Kami hanya membantu memfasilitasi jika ada permasalahan, dan jika tidak ada laporan, maka kami tidak bisa menindaklanjuti, kalau melaporkan atau minta bantuan, kami akan menghubungi ahlinya, kalau di sini sendiri masih tidak ada sampai saat ini,” katanya, Senin (7/9/2020).

Selain itu, kurang maksimalnya pendampingan tersebut, karena elama ini, pihaknya hanya mengandalkan tenaga seadanya yang memang ada di instansinya. Sehingga kendati masalah anak di bawah umur dan perempuan sering terjadi, tidak bisa ditangani dengan ideal.

“Ya untuk yang kasus seperti kemarin, yang diamankan kepolisian, dini hari itu kan ya, memang kami tahu, bahkan kami pernah menerima laporan anak pernah memukuli orangtuanya, dan kami cuma bantu, fasilitasi saja” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi lV DPRD Sumenep Siti Hosna menyayangkan tidak adanya psikolog dalam mendampingi para korban tersebut. Hal itu karena berkaitan dengan jiwa dan karakter anak korban kekerasan tersebut.

Menurunya, bukanlah perkara sulit merekrut tenaga ahli psikolog, apalagi di Sumenep sudah banyak yang ahli di bidang tersebut. Dengan begitu, dia juga menekankan aagar pemerintah lebih mengarahkan tenaga aparatur itu sesuai dengan kompetensinya.

“Kalau tidak ada. Buka lowongan pekerjaan untuk mendampingi kasus-kasus anak atau perempuan. Ada banyak juga lulusan psikologi yang ada di Sumenep, tapi ilmu mereka tidak dimanfaatkan, hanya digunakan untuk mengajar,” sarannya. (ara/waw)

Komentar

News Feed