PT. Garam Serap Garam Gresik yang justru Berasal dari Madura

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN) MERUGI: Petani memilih tidak merawat lahan tambak pasca anjloknya harga dan minimnya penyerapan di, Desa Aeng Sareh, Sampang.

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Sebulan menjelang tutup tahun, PT. Garam belum memastikan penyerapan. Badan usaha milik negara (BUMN) itu berdalih masih banyak stok untuk melakukan penyerapan pada tahun ini. Padahal, hasil panen garam rakyat banyak yang belum terserap.

Manager Corporate Communications PT Garam, Miftahol Arifin saat dikonfirmasi mengaku belum ada keputusan sampai saat ini untuk menyerap garam di Madura. Alasannya, karena masih banyak stok yang tersimpan di sejumlah gudang milik PT. Garam.

Bacaan Lainnya

“Kami masih fokus untuk mengeluarkan garam yang sudah kami produksi,” katanya.

Pihaknya beralasan, wabah Covid-19 berpengaruh pada penjualan garam yang sudah diproduksi PT. Garam. Sehingga, stok garam masih banyak. Dampaknya, belum diputuskan untuk menyerap garam rakyat.

Disinggung soal kebijakan tidak menyerap garam tahun ini, pihaknya mengaku sudah melakukannya di Gresik, Jawa Timur. Bahkan diakui, garam itu berasal dari Bangkalan. Sayangnya, dia menolak menjelaskan jumlah penyerapan yang didatangkan dari Bangkalan itu. Sebab, selama ini nyaris tidak ada produksi garam di Kabupaten Bangkalan.

Soal dana pemyertaan modal negara (PMN) yang dialokasikan untuk penyerapan garam rakyat, pria yang kerap disapa Miftah itu mengakui anggaran itu masih ada. Namun, kebijakan tidak melakukan penyerapan murni karena masih banyaknya stok garam.

“Anggaran itu ada. Tapi kami masih fokus menghabiskan garam yang ada. Selain itu, beberapa gudang masih penuh,” katanya.

Dia mengaku, sempat ada pembahasan penyerapan di akhir tahun 2020. Namun, pihaknya belum memastikan rencana itu. Sebab belum ada pembahasan lanjutan.

“Kami belum mendapatkan informasi lagi soal itu. Tapi kita masih punya waktu sebulan untuk melakukan pembelian garam petani,” katanya.

Pantauan Kabar Madura, tidak sedikit lahan tambak garam dibiarkan rusak oleh pemiliknya. Terbukti beberapa fasilitas tambak di Kabupaten Sampang tidak terawat. Bahkan, beberapa tempat penimbunan garam tidak dirawat oleh petani. Meski puluhan ton garam masih berada tidak jauh dari lahan pegaraman.

“Petani sudah pasti merugi. Kami sudah tidak punya harapan bisa menjual garam sebelum tutup tahun 2020,” kata Nur Hasanah, salah satu petani yang ditemui di sekitar tambak.

Dia mengaku selama ini berusaha irit dalam biaya perawatan lahan. Sebab hasil penjualan jauh tidak sebanding dengan biaya operasional. Namun, petani semakin merugi ketika penyerapan tidak dilakukan tahun ini. Sebab petani harus merawat garam yang masih ditimbun karena tidak terjual.

Sedangkan Ketua Forum Petani Garam Madura (FPGM), Moh. Yanto mengatakan, alasan penyerapan garam di Gersik terkesan mengelabui. Sebab PT. Garam tidak bisa memungkiri bahwa tahun ini tidak melakukan penyerapan sama sekali.

“Dana PMN sama sekali tidak digunakan. Lalu kemana dana itu,” katanya.

Dia mengaku kecewa dengan PT. Garam. Sebab sudah diberi modal oleh negara untuk menyerap garam, namun tidak dilakukan. Sehingga, petani mengalami kerugian berkali-kali. Sementara PT. Garam beralasan stok masih banyak. Padahal selama dua tahun terakhir tidak ada penyerapan yang dilakukan. (man/waw)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *