Puisi-Puisi Yuris Julian

  • Whatsapp

Mitik
Oleh: Yuris Julian

Begitulah sel-sel waktu
memainkan denyut sejarah
mitos jingga selalu terbenam
di setiap sore

Ketika lampu-lampu itu dimatikan
mimpi-mimpi setengah padam
warna ganih kekal di sepanjang malam
seakan-akan bau sperma
melekat pada tilam kepercayaanmu

Kita merasa dihimpit
oleh tekanan paradigma palsu
dimana saat-saat manusia
digiring tanpa dialog

2020

Pada sebuah mikrofon masjid

Bermula dari suara-suara
yang menggerayangi lubang-lubang telingamu

Siapa yang paling berani memanggilmu
dengan menggunakan nama tuhanmu ?
selain di titik subuh selepas bau tembakau
tercium dari mulut sorang muadzin

Saat tubuhmu dijaring angin mentol di pagi hari
tak ada lagu atau pun kalimat-kalimat paling empuk
tak ada yang benar-benar mampu menepi
untuk menggetarkan ranting-ranting imanmu

2020

Emeron

Setelah selesai keramas
warna rambutmu memberi gambaran lain
seperti halnya iklan pada televisi
menyiarkan harum emeron

Baru kali ini
aku merasakan di sepanjang bibirmu
sungai sungai mengalir menuju dunia lain

Demikianlah manusia hidup
di kedua payudaramu yang meledak
membentuk sebuah lekukan
dimana perut tidak hanya merindukan sesuap nasi

Di negri ini
angin sakal mulai menggoncangkan
pementasan betis ibu dan bapak
hingga pantat mereka lapuk
dari kedudukannya

Kututup mataku
ketika lidahku menjelma api

2020

Pesan singkat dari langit

Di langit bulan januari
udara tidak memberi apa pun
selain kaki-kaki gerimis
jatuh menginjak kekosongan

Jalan-jalan basah
bunga-bunga dan daun-daun
terseret sinyal-sinyal elektrik

“apakah sudah yakin, jika hujan itu
tidak lain adalah suara sepi yang berjatuhan?”
sambil membalas pesan-pesan singkat di udara
lalu terkirimlah ke belahan dunia yang lain

Pada kedua matamu terbacalah tetesan banjir
suasana menjadi tak terjangkau oleh siapa pun
kalimat-kalimat hening seketika

2020

Gadis bergincu

Dicegatlah denting gitar itu
oleh senyum manis milik seorang gadis bergincu
udara mendadak lengket
seperti dihujani lelehan coklat koko krunch
yang menaburkan rasa jatuh cinta.

Malam telah berangsur angsur memulas semua kacamata
umat manusia dengan warna hitam

Di bawah kolong langit, hidup ini menjadi gelap
orang-orang mencari patromak, lampu senter, lilin dan obor
untuk menyambut masadepan.

Selama ini aku masih duduk di kedai kopi,
memesan denyut jantung milik penderita serangan panik
untuk mengagetkanmu jika sewaktu-waktu lupa jalan pulang.

2020

Yuris Julian lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 16 agustus 1995
Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *