oleh

Pulihkan Listrik Melalui Pembangunan PLTS Atap

Oleh: Habibah Auni

Sekarang dunia sedang diselimuti virus Covid-19 yang tak terhitung jumlahnya. Serangannya yang amburadul menembus batas-batas kehidupan, tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan. Buktinya, ekonomi mengalami resesi. Para tulang punggung keluarga dikekang gerak-geriknya, sehingga tidak bisa memupuk sumber penghidupan. Hidup dan mati manusia, kini ditentukan dari kemampuan masing-masing dalam menaklukkan kengerian Covid-19.

Hal ini jika dibiarkan begitu saja, tentu bakal memberatkan masyarakat, terutama di sektor listrik. Tarif listrik akan terus membengkak begitu saja sepanjang orang-orang berdiam diri di dalam rumah. Tarif listrik yang kian melonjak ini, bisa saja suatu saat nanti membuat masyarakat tidak sanggup membayarnya. Apalagi, subsidi listrik tahun rencananya akan dikurangi volumenya. Bagaimana tidak membuat geleng-geleng kepala?

Oleh karena itu sebelum terlambat, perlu rasanya mencari solusi dalam mencegah hal tersebut, salah satunya dengan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Sebab pembangkit tersebut bisa dimiliki semua kalangan masyarakat, mempunyai potensi produksi listrik berlimpah, dan harganya yang murah.

Keunggulan PLTS Atap

Tak kenal maka tak sayang, nampaknya slogan klasik ini berlaku untuk PLTS atap. Karena dengan mengetahui keunggulan dari pembangkit listrik tersebut, kita dapat mengenali mukjizat – mukjizat yang terpendam di dalamnya.

Adapun mukjizat pertama terletak pada meteran export/import pada sistem on-grid (PLTS yang terhubung dengan PLN). Komponen ini dikenal dengan manfaatnya yang mampu mengurangi banyak beban listrik rumah tangga. Alasannya sederhana, karena meteran tersebut bisa menggunakan energi matahari di malam hari. Skema ini tentunya sangat menguntungkan PLN, PLTS, dan pelanggan.

Kedua, PLTS atap sangat membantu masyarakat yang tinggal di daerah 3T atau terpencil, yang mana menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Sebab PLTS atap memiliki sistem off grid, yang mana mampu mengalirkan listrik ke daerah yang tidak terjangkau jaringan PLN. Dan sama seperti sebelumnya, listrik dapat dirasakan di malam hari, dengan cara mengintegrasikan PLTS dan PLTD.

Ketiga, investasi PLTS semakin ekonomis, yang terbukti pada tahun 2019 mampu menyentuh angka USD 30 sen per kilowatt. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahardjo dan Fitriana dalam studinya yang berjudul Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia, yang menyebutkan bahwa biaya investasi PLTS di masa depan akan terus menurun. Dengan demikian, PLTS dapat menjadi salah satu sarana negara dalam memupuk pendapatan, bahkan memulihkan perekonomian setelah pandemi.

Tantangan di Masa Pandemi

Kendati demikian, bukan berarti dalam pelaksanaannya pembangunan PLTS atap tidak menghadapi kendala. Alih-alih begitu, justru ada hambatan yang ditemui pembangkit tersebut, terutama di masa pandemi.

Sebut saja dalam penyambungan PLTS atap skala rumahan, masih terdapat kendala dalam penyediaan meter-exim. Hal ini dikarenakan pelanggan masih harus menunggu antara dua sampai empat bulan untuk memperoleh meteran. Akibatnya, pembangungan PLTS atap tidak bisa disempurnakan secara menyeluruh dan dalam waktu yang singkat.

Hambatan tersebut akan berkorelasi dengan ganjalan berikutnya, yakni terjadinya kontraksi PLTS sebesar 50-100% di masa pandemi. Sebagai akibatnya, sejumlah proyek terpaksa ditunda.

Selain itu imbas pandemi, PLTS atap diproyeksikan tidak akan mendapat permintaan baru selama enam bulan ke depan, karena pemilik industri memilih untuk menahan investasi. Hal ini mengingat biaya investasi awal yang besar, harga modul yang mahal, dan harga per kWh listrik yang tinggi, turut menjadi pertimbangan dalam keputusan berinvestasi. Sebagai akibatnya, proyek pembangkitan akan mengalami kelesuan, hingga titik terang pandemi ditemukan.

Cahaya Terang

Bak cahaya yang menerangi kegelapan, energi matahari pun mampu menanggulangi gelap gulita yang kadung menggumpal. Artinya, PLTS atap menyimpan banyak optimisme yang bisa menangkal segala hambatan di depan mata. Terlebih lagi, alokasi anggaran energi terbarukan pada tahun 2021 lebih banyak ke PLTS. Hal ini menunjukkan betapa teknologi tersebut mendapat dukungan yang positif dari pemerintah. Selain itu, tren PLTS sebelum pandemi terbilang positif. Tinggal bagaimana kita percaya dengan kekuatan terpendam PLTS.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membuat PLTS kompetitif di pasar, dengan memikat sektor industri sebagai calon pelanggan. PLTS dan PLN saling mempromosikan tenaga surya ke pihak swasta. Memberikan relaksasi tarif dan kontrak yang win-win solution, agar industri mau membeli dan menanam saham. Dengan cara memberikan informasi yang lengkap dan jelas mengenai prosedur penyambungan, biaya, dan trusted provider.

Sebagaimana industri, masyarakat pun berpotensi untuk dijadikan sebagai calon pelanggan PLTS. Guna mewujudkannya, ada baiknya negara menggelontorkan subsidi kepada calon pelanggan PLTS, dengan besaran subsidi dikategorikan berdasarkan tingkat daya beli masyarakat. Sehingga nantinya pasar dapat meningkatkan daya tarik PLTS di hati masyarakat.

Selain itu, langkah lain yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan lelang proyek PLTS atap tahun ini secara matang. Agar eksekusi oleh PLN dapat dilaksanakan tahun depan. Hal ini dilakukan guna memperoleh nilai investasi yang lebih tinggi, yang mana sangat bermanfaat dalam mengembangbiakkan pembangunan PLTS atap, sekaligus memulihkan perekonomian negara.

*Penulis adalah Mahasiswa Teknik Fisika UGM. Menjabat sebagai Redaktur di Gebrak Gorontalo. Ratusan tulisan opininya sudah tersebar di berbagai media massa nasional dan lokal, seperti: Republika, Radar Bekasi, Radar  Jogja, Radar Banjarmasin, Kalimantan  Post, Jabar Ekspres, Harian Jogja, Galamedia, InilahKoran, Kabar Banten, Kabar  Madura, Harian Sulteng Raya, Harian Momentum, Harian Tabengan, Medan Bisnis Daily, Majalah Banten Perspektif, dll. Selain itu, penulis juga sudah membuat dua buku dengan judul “Menyelami Jejak Warta Nusantara” dan “Timur Tengah dalam Pusaran Hegemoni”.

 

 

Komentar

News Feed