oleh

Puskatra Indonesia Temukan Kejanggalan Penganggaran di Pengadaan Kaos Rp600 Juta RSUD dr. Moh. Zyn

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Pengelolaan anggaran di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moh. Zyn Sampang perlu dilakukan audit khusus. Sebab, pengelolaan yang tidak transparan rawan bancakan oleh sejumlah oknum manajemen rumah sakit. Hal tersebut diungkapkan, Pembina Pusat Kajian Transparansi Anggaran Indonesia (Puskatra), Syamsudin, Rabu (3/3/2021).

Menurutnya, penganggaran dan realisasinya tidak terperinci. Mulai dari peruntukan anggaran, hingga laporan penggunaan keuangan. Kondisi itu, perlu ditindaklanjuti secara serius. Sebab, sejak dibentuk Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) anggaran kerap tidak transparan.

“Selama ini tidak ada yang berani membelejeti anggaran di rumah sakit. Padahal, sudah jelas pengelolaan anggaran ada yang tidak transparan. Pelaporan dan perencanaan yang tidak detail akan rawan menjadi dana bancakan,” katanya.

Mantan anggota Komisi II DPRD Sampang itu mengaku, anggaran di RSUD banyak yang janggal. Salah satunya, anggaran pengadaan kaos olahraga yang mencapai Rp600 juta lebih. “Ini kan tidak jelas untuk berapa orang, setiap orang mendapat berapa pasang baju olahraga,” ujarnya.

Hal- hal semacam itu, perlu diselidiki anggarannya. Sebab, sudah muncul di layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) dan dipastikan penganggaran sudah valid.

“Coba hitung, seandainya setiap seragam olahraga seharga Rp300 ribu per orang. Jika karyawan rumah sakit kurang lebih 500 orang, maka anggaran yang dibutuhkan hanya sekitar Rp150 juta. Lalu, seragam olah raga seperti apa hingga mencapai Rp600 juta lebih?,” jelasnya.

Syamsudin menegaskan, perhitungan itu sudah diambil dengan jumlah maksimal. Penganggaran tersebut, sebagian kecil dari pengelolaan anggaran yang dilakukan RSUD. Sedangkan, anggaran yang melekat di rumah sakit tidak sedikit. Terlebih adanya status BLUD yang rawan disalahgunakan.

“Kalau anggaran pengadaan kaos olahraga saja sudah janggal. Bagaimana dengan anggaran yang lain yang nilainya jauh lebih besar. Seperti dana Rp60 miliar, tapi rencana penggunaannya tidak terperinci,” ungkapnya.

Dia mengaku, di rumah sakit terlalu banyak oknum lama yang masih dipercaya mengelola. Hal itu dinilai, tidak bagus karena rawan terjadi kerjasama yang solid. Terutama, untuk memainkan anggaran demi kantong pribadi. Pihaknya berharap, segera ada penyegaran manajemen.

Berdasar penelusuran Kabar Madura, sejumlah pengelolaan tidak rinci dan bersifat gelondongan. Di antaranya,  belanja darah mencapai Rp2,3 miliar selama setahun. Pengadaan kaos seragam olah raga mencapai Rp600 juta lebih. Selain itu, ada penganggaran belanja air selama setahun mencapai Rp840 juta selama setahun.

Selain itu, beberapa kejanggalan juga ditemukan di rencana kerja dan anggaran (RKA) APBD 2021. Di dokumen tersebut tercatat ada belanja alat kesehatan (alkes) senilai Rp5 miliar. Namun, tidak disebut jenis pengadaan dan bentuk alat yang akan dibeli.Di dokumen yang sama, ada pengelolaan anggaran senilai Rp 60 miliar juga untuk pengadaan alkes. Padahal di RKA, pengelolaan anggaran harus rinci peruntukanya. (man/ito)

Indikasi Kejanggalan Penganggaran di RSUD dr. Moh. Zyn Kabupaten Sampang, Versi Puskatra Indonesia

  • Penganggaran dan Realisasi Tidak Terperinci
  • Pengadaan Kaos Olahraga untuk Karyawan Rp600 Juta, Tanpa Jumlah Karyawan Yang Akan Menerima Kaos Olahraga
  • Jika Harga Kaos Per Karyawan Rp300 Ribu dengan Jumlah Karyawan 500 Orang Hanya Dibutuhkan Rp150 Juta.
  • Bagaimana Dengan Anggaran Lain Yang Lebih Besar ?

 

Komentar

News Feed