Putra Putri Batik Pamekasan Kutuk Aksi Pembakaran Batik

  • Whatsapp
PROTES: Putra Putri Batik Pamekasan saat belajar membatik, Minggu (22/9/2019).

Kabarmadura.id/PAMEKASAN-Penyobekan dan pembakaran kain batik Sekar Jagad, semakin berbuntut panjang. Setelah diprotes pengrajin batik, aksi dalam demonstrasi pada Rabu (18/9/2019) lalu itu, juga mendapat kecaman dari Ikatan Putra Putri batik Pamekasan dan Dewan Pengurus Cabang (DPC) Asosiasi Profesi Batik-Tenun Nusantara (Bhuana) Pamekasan.

Menurut Ketua Ikatan Putra Putri Batik Pamekasan Desi Dwi Amitha, tindakan tersebut dinilai kurang beradab. Sebab, Batik Sekar Jagad tersebut merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan.

“Kita wajib menjaga batik itu, perbuatan itu sangat melukai hati kami para pemuda,” ungkapnya.

Selain itu, aksi tersebut dikhwatirkan merusak nama baik dari batik yang sudah sekian lama dijaga dan dibesarkan oleh putra putri terbaik Pamekasan. Ikatan Putra-Putri Batik Pamekasan juga mengutuk keras atas aksi tersebut, karena dinilai tidak sopan dan tidak mendidik.

“Jadi kami Ikatan Putra-Putri Batik Pamekasan sangat kecewa atas apa dilakukan pendemo itu,” papar dia saat ditemui di acara pelesatarian batik, Minggu (22/9/2019).

Selain Ikatan Putra-Putri Batik Pamekasan, Ketua DPC Bhuana Pamekasan Mohammad Kuddah saat ditemui di Pasar 17 Agustus Pamekasan juga ikut geram dengan aksi demonstran tersebut.

Dia mengaku terpukul dengan aksi tersebut. Terlebih, pihaknya sudah bersusah payah payah menggelar beberapa pendidikan mengenai pelestarian batik Pamekasan kepada para penerus.

“Dikhawatirkan di kemudian hari ada yang meremehkan tehadap karya batik,” ujarnya.

Menurut Kuddah, perbuatan tercela seperti itu tidak semestinya dilakukan. Sebab, para pengrajin batik banyak yang mengandalkan pengahasilannya dari penjualan batik. Dia juga meminta para pendemo segera meminta maaf. Sebab, aksi tersebut dianggap sudah melebihi batas dan bisa merugikan para pembatik, baik dari sisi material dan immaterial.

“Bayangkan, berapa ribu orang yang dilecehkan dengan aksi itu, jika tidak mengindahkan imbauan kami, maka kami akan sedikit memaksa melalui jalur hukum,” ungkapnya.

Ancaman menempuh jalur hukum, sebelumnya juga sudah dikatakan Ahmad Zaini, salah seorang pengrajin batik Pamekasan. Rencananya, Senin (23/9/2019) besok, laporan itu akan disampaikan ke Polres Pamekasan. Namun jika ada niatan baik dari pendemo untuk meminta maaf,  dia akan tetap berbesar hati memaafkannya.

Sebelumnya, Zaini Wer-Wer mengaku tidak bermaksud menyasar pengrasjin batiknya, melainkan adalah bentuk kekecewaan kepada bupati Pamekasan, karena tidak menepati janjinya untyuk menaikkan harga tembakau petani.

“Karena yang punya batik itu, merupakan tim sukses Berbaur bernama Dus Marhaen yang dulu batiknya dikasih Berbaur. Sekarang dia kecewa, karena bupati tidak bisa menaikkan harga tembaku,” ucapnya. (rul/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *