Quality Assurance Pendidikan Pesantren


Quality Assurance Pendidikan Pesantren

Oleh: Dr. Ach. Syaiful A’la, M.Pd.I

Dalam remang lampu sorot di Taman Ismail Marzuki, pada tanggal 16 Oktober 2017 sore, seorang santri asal Bone, yang sekaligus menjadi Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin, membacakan sebuah puisi berjudul "Pesantrenku". Di hadapan para sastrawan ternama seperti Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D. Rahman, Helvy Tiana Rosa, Sujiwo Tejo, D. Zawawi Imron, suara Dirjen menggelegar mengumandangkan sajak:

Pesantrenku, kau tak boleh sembunyi di lorong-lorong | sunyi peradaban dan terkurung oleh ruang dan waktu, | kau tak boleh menjadi penonton cemburu | kau harus bertengger di pusaran peradaban | karena hakekatnya kau adalah peradaban itu sendiri. 

Aksentuasi muatan maknanya menekankan bahwa pesantren harus menjadi pemain sekaligus gelanggang.  Pesantren tidak boleh menjadi penonton yang bila pertarungan dimenangkan hanya bisa bersorak dan bila kalah hanya sakit hati. Pesantren harus memiliki skill melakukan dribble dalam multisituasi. 

Indonesia memiliki ribuan pesantren tempat menempa, mendidik, mengajar, dan menyiapkan generasi bangsa lebih kokoh di masa depan. Data Kementerian Agama RI yang dirilis pada bulan April 2022, terdapat 26.975 unit pesantren yang mendidik sekitar 2,65 juta santri. Sekitar 1% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia menempuh pendidikan di pesantren. 

Pertanyaannya kemudian, apa alasan logis orang tua memutuskan agar anak mereka menempuh pendidikan pesantren? Dan, bagaimana pesantren mengelola santri sehingga bisa menjadi generasi bangsa yang mampu mewarnai masa depan?

Orang tua menggiring anaknya menempuh pendidikan pesantren tentu memiliki alasan yang kuat. Pendidikan pesantren, baik  tradisional maupun modern sama-sama memiliki karakter mendidik mental mandiri. Selain itu terdapat unsur-unsur lain yang dijadikan acuan dan perbandingan antara pendidikan pesantren dan non pesantren. Corak pendisiplinan dalam aspek keilmuan dan pengetahuan digembleng sepanjang waktu. Ihwal peningkatan ibadah mahdhah juga dipola setiap hari sebagai media meningkatkan spiritualitas yang nantinya menjadi pribadi berakhlak dan beradab.

Terdapat unsur-unsur yang harus ada di pondok pesantren, bahkan menurut Zamakhsyari Dofir (1999:65) unsur tersebut sebagai syarat disebut sebagai pondok Pesantren. Pertama, Kiai sebagai figur yang ditokohkan dan mampu memberikan pengajaran, pendidikan, dan teladan. Kedua, Santri sebagai pembelajar, anak didik, dan mampu meneladani gurunya. Ketiga, Pondok atau asrama sebagai tempat santri bermukim. Keempat, Masjid atau Musala sebagai tempat beribadah dan mengaji. Kelima, Kitab kuning sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan.

Pandangan tersebut mengacu pada historisitas pondok pesantren dari abad XVI, yang tentunya unsur-unsur tambahan seiring berlangsungnya waktu berkembang semakin maju. Akan tetapi, unsur-unsur tersebut dapat disederhanakan menjadi dua, aktor dan arena (Bourdieu,1997:49).

Pergeseran Nilai

Pada mulanya, santri dididik untuk belajar memenuhi kebutuhannya sendiri secara mandiri, meskipun bahan baku dasarnya masih disuplai dari orang tua. Misal, untuk kebutuhan makan harian, santri belajar memasak sendiri dan mencuci pakaian sendiri. Meskipun belakangan ini santri banyak memilih jalan praktis pragmatis, kebutuhan makan dipenuhi melalui catering atau indekost dan cuci pakaian sudah menggunakan jasa laundry, yang notabene difasilitasi oleh pondok pesantren.

Di pondok pesantren, kiai berposisi sebagai pengasuh, guru, murabbi ruhi, dan penunjuk jalan batin. Sementara santri sebagai murid atau "anak didik" yang siap menerima semua ilmu dan intruksi guru dengan tanpa kritik dan pertanyaan. Namun seiring berjalannya waktu, tidak sedikit kiai  disebut sebagai pimpinan, dan santri  sebagai "peserta didik". Perubahan bahasa atau kata dari pengasuh menjadi pimpinan, dari anak didik menjadi peserta didik, tentu memiliki efek psikologis dalam pendidikan.

Pembaca yang bijaksana semestinya dapat menyimpulkan sendiri, apakah perubahan itu merupakan sebuah perkembangan, atau merupakan pergeseran. Dua kutub yang bersebelahan itu memiliki plus minusnya sendiri. Satu sisi, santri difokuskan untuk belajar, penambahan waktu kegiatan, dengan dikurangi aktivitas memasak dan mencuci, di sisi lain mentalitas kemandirian dalam tanggung jawab pemenuhan makan dan cuci pakaian dihilangkan. Demikian juga di posisi kiai, pada mulanya berada di pucuk gunung, yang dawuhnya menjadi titah yang tidak dapat dibantah, kemudian menurunkan levelnya menjadi pimpinan yang apabila kebijakannya tidak sesuai dapat dikritik, atau bahkan bisa digeser.

Santri masa kini tidak boleh kumuh dan gudikan. Salah satu pesantren besar di Jombang saat ini, ada iuran yang menganggarkan untuk biaya salon dan make up untuk santri putri. Santri harus cantik dan bersih. Fenomena tersebut berbanding terbalik dengan santri terdahulu, yang tampil apa adanya dan mengaji semampunya.

Embrio Saintis Pesantren

Munculnya kampus-kampus di pondok pesantren dapat dijadikan sebagai simbol lahirnya para pemikir dari pondok pesantren. Tidak sedikit lulusan pondok pesantren berlaga dalam kontestasi kebangsaan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu lulusan pesantren sekaligus pengasuh pesantren yang berhasil secara politik dan sains membuat kagum para pemimpin hebat dunia. Secara keilmuan mumpuni, secara politik bisa dihitung cemerlang, hingga dicintai tidak saja di masa hidupnya, sampai saat ini maqbarah-nya masih diziarahi ribuan orang.

Pondok pesantren Sidogiri misalnya yang terkenal dengan pesantren salaf (bukan salafi), telah menginisiasi lahirnya perbankan pesantren, BMT Sidogiri dan barisan Swalayan yang tentu menjadi lawan Alfamart dan Indomart di Jawa Timur. Di daerah lain seperti di Gapura, kolaborasi lulusan pondok pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura dan pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo berhasil menginisiasi munculnya BMT NU dan Swalayan NU yang telah memiliki ratusan cabang di seluruh Jawa Timur.

Sekolah-sekolah formal di pondok pesantren juga diinisiasi dibuka semacam kejuruan; seperti teknik mesin, kimia, IPA, desain grafis, dan lain sebagainya. Artinya pondok pesantren tidak hanya mengajarkan kitab kuning yang turats, tetapi banyak tajdid di berbagai bidang yang menjamin kualitas. Isu sepele pernah muncul yang mengkambing hitamkan pondok pesantren sebagai sarang teroris adalah sebuah game yang menunjukkan bahwa ada pihak yang sedang khawatir dengan perkembangan pondok pesantren.

Pondok pesantren hari ini harus keluar, mendekati masyarakat di semua level. Tujuannya adalah pendidikan Islam ala pesantren bisa merengkuh semua kalangan. Tidak hanya di pelosok, melainkan di kota-kota besar masih  banyak yang merindukan cara belajar agama yang moderat. Pesantren adalah solusi terbaik untuk memberikan service, pengayoman, harish, dan kasih sayang bagi mereka yang ingin belajar.

Pemerintah pun telah membuka diri dan sadar bahwa pesantren adalah tradisi pendidikan Indonesia yang patut diapresiasi. Munculnya peringatan Hari Santri dan adanya event Liga Santri merupakan bukti bahwa negara hadir di pesantren.

Dengan demikian, tidak perlu ada keraguan bagi orang tua, untuk menitipkan putra-putrinya di pondok pesantren. Semoga barokah untuk semua.

*) Rektor Institut Kariman Wirayudha Sumenep Madura