Ramadan Bukan Bulan Biasa

  • Whatsapp
(FOTO: KM: Dok) Drs. H. Juhedi MM.Pd: Kepala Kantor Kemenag Sumenep

KABARMADURA.ID – Berbagai ungkapan yang sudah sangat populer untuk keagungan Bulan Ramadan, baik ketika menyambutnya, yakni dengan ungkapan marhaban ya Ramadan.

Berkenaan dengan bulan suci Ramadan, beberapa ungkapan sebagai keagungan bulan puasa antara lain adalah bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah, dan bulan yang suci.

Untuk ungkapan marhaban ya Ramadan, dengan mengutip penyampaian Prof. Dr. Quraish Shihab, bahwa Marhaban itu diambil dari kata rahab. Di mana arti yang pertama adalah berarti lapang. Sehingga dengan begitu, Ramadan yang datang kita sambut dengan penuh lapang dada dan kegembiraan.

Kemudian arti rahab yang kedua adalah tempat bekal, bahwa orang musafir yang membawa kendaraan, kemudian ada tempat yang dinamai rahab, yakni berupa tempat luas untuk mengambil bekal atau memperbaiki kendaraan si musafir.

Bukan hanya lapang menyambut Ramadan, tapi juga mengambil bekal menuju perjalanan akhirat. Jadi Bulan Ramadan itu merupakan bulan untuk mengambil dan mengimpilkan bekal perjalanan menuju akhirat.

Terpenting pula di momentum bulan Ramadan, yakni bersedia memperbaiki apa yang salah, baik mulai dari niatan hingga ke perbuatan. Harus melakukan intropeksi, apa yang selama ini telah dilakukan kekeliruan dalam perbuatan, yang kurang. Semuanya harus diperbaiki.

Dalam arti bekal, harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Mulai dari meningkatkan ibadah dan dengan amalan-amalan saleh.

Tidak hanya kepada Tuhannya, tapi juga banyak membantu seperti berbagi kepada yang kurang mampu.

Di bulan Ramadan pula, merupakan kesempatan untuk beribadah. Ladang pahala di bulan suci juga menjadi momentum untuk dikumpulkan, karena pahala yang dilipatgandakan oleh Allah merupakan rahmat yang diturunkan Tuhan Semesta alam kepada umatnya.

Bulan Ramadan juga menjadi ajang untuk meningkatkan kesalehan bagi setiap umat Muslim. Baik kesalehan pribadi maupun kesalehan sosial. Pintu pahala dibuka selebar-lebarnya, begitu pula pintu ampunan.

Kesalehan diri bisa dibangun dengan meningkatkan ibadah kepada Allah. Sementara untuk meningkatkan kesalehan sosial adalah dengan cara melaksanakan zakat, berbagi terhadap sesama

Karena di bulan puasa ini, bisa merasakan lapar. Karena dengan lapar, apa yang dirasakan oleh orang yang kekurangan juga bisa dirasakan.

Lain dari itu juga, bisa lebih menghormati makanan. Hal itu bisa dirasakan ketika berbuka puasa, bahsa karena betapa nikmatnya segelas air dan makanan.

Di bulan Ramadan, meningkatkan ibadah untuk menjadi pribadi yang lebih saleh sangat terbuka lebar. Tak hanya itu, membangun dan berbuat kesalehan sosial, juga terbuka lebar.

Sehingga sangat sayang jika di bulan yang penuh berkah, pahala dilipatgandakan, dan bulan penuh ampunan, dilewatkan dengan perbuatan dan amalan yang biasa-biasa saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *