Rasbiyeh, Buruh Usia 60 Tahun Harus Panggul Puluhan Liter Air Setiap Hari

  • Whatsapp
(FOTO: KM/SUBHAN) HANYA PASRAH: Rasbiyeh,buruh lansia miskin di Desa Pajerruan, Kecamatan Kedungdung, Sampang luput dari perhatian pemerintah.

KABARMADURA.ID – Usianya sudah 60 tahun. Masuk kategori lanjut usia (lansia). Namun nasibnya belum baik. Dengan tulang ringkihnya, Rasbiyeh masih mampu memanggul air dalam jeriken setiap hari. Sayang, dia hanya dapat Rp2000 sekali memanggul air dalam jeriken 10 liter.

SUBHAN, SAMPANG

Lansia berstatus janda itu tinggal di Dusun Burneh Onjur, Desa Pajerruan, Kecamatan Kedungdung, Sampang. Dia ikhlas hidup di tengah keterbatasan. Sehari-hari tetap bekerja. Pekerjaan utama dan yang jadi sandaran hidup adalah menjadi buruh panggul air minum.

Sayangnya, dia luput dari bantuan sosial yang selama ini digencarkan pemerintah. Selain mendapat penghasilan yang rendah, mirisnya, tempat tinggalnya hingga kini belum teraliri listrik.

Meski tinggal di rumah tanpa listrik dan lebih mirip gubuk, Rasbiyeh tidak ragu menceritakan tentang kehidupannya, bahkan tanpa menunjukkan raut kesedihan.

Dari pengakuannya, sudah sekitar 50 tahun dia menetap di kawasan perkebunan tanpa penerangan lampu listrik. Namun dia merasa hal itu baik-baik saja dan hanya bisa pasrah.

Untuk tetap bisa bertahan hidup, Rasbiyeh bersama putra tunggalnya menjadi buruh panggul air dari sumur ke rumah-rumah warga.

“Setiap hari manggul air minum ini, hasilnya memang tidak seberapa, untuk jeriken 10 liter biasanya dapat Rp2.000,” tuturnya menggunakan bahasa Madura saat ditemui awak media, Minggu (17/10/2021).

Penghasilan yang diperoleh itu, dikatakan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Terkadang hanya cukup untuk membeli kebutuhan racikan bumbu makanan, beras, dan minyak tanah untuk lampu rumah yang terbuat dari kaleng susu.

“Penghasilan saya terkadang hanya cukup untuk membeli minyak tanah untuk dhamar talpek (lentera api), karena terkadang untuk makan biasanya dikasih oleh tetangga,” ungkapnya.

Kendati ikhlas pakai lentera api untuk menerangi gubuknya saat malam hari, dia rupanya juga mendambakan penerangan dari listrik. Rasbiyeh juga ingin rumahnya diperbaiki. Sebab, bila musim penghujan, rumahnya tidak bisa ditempati karena gentengnya sudah banyak yang bocor.

“Biasanya kalau lagi musim hujan, untuk tidur saya  numpang  tetangga, khawatir rumah saya roboh. Ya saya harap diperhatikan pemerintah,” harapnya.

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *