oleh

Rasio Jumlah Guru dan Siswa Timpang

Kabarmadura.id/SAMPANG-Beberapa tahun terakhir, jumlah guru di Kabupaten Sampang yang memasuki usia pensiun sangat banyak, sementara penambahan sedikit. Alhasil, rasio guru dan siswa timpang, artinya jumlah guru tidak ideal atau sebanding dengan jumalah murid yang akan dididik, sehingga proses pembelajaran di sekolah tidak berjalan optimal, mengingat jumlah guru sedikit, sedangkan siswanya banyak (lihat grafis).

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Jupri Riyadi yang dikonfirmasi melalui Kabid Guru Dan Tanaga Pendidikan Hari Agustini memaparakan, ketesedian guru di SD dan SMP belum sebanding dengan jumlah peserta didik. Terlebih, penambahan guru PNS yang baru sangat sedikit, bahkan dalam tiga tahun terakhir hampir tidak ada.

“Memang jumlah guru dan siswa saat ini tidak ideal, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, kalau penambahan guru PNS tidak bisa, harus menunggu pengakatan dari pemerintah pusat,” kata Hari Agustini kepada Kabar Madura, Selasa (12/3).

Ketersediaan guru khususnya berstatus PNS dan jumlah siswa di semua lembaga pendidikan,  perbandingannya sangat jauh. Untuk itu, disdik terus memberdayakan guru tidak tetap  (GTT) dan tenaga honorer K-II yang ada, karena tidak mungkin menambah guru PNS yang merupakan wewenang pemerintah pusat.

Lebih jauh Tin (sapaannya) menjelaskan, dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di tengah minimnya guru PNS, hanya sebatas memaksimalkan pemberdayaan guru K-II dan GTT dengan menaikkan tunjangan insentif tranportasi dari Rp200 ribu menjadi Rp350 ribu. Namun K-II dan GTT tetap mendapatkan honor dari dana BOS dari setiap lembaga pendidikan tempat mengabdikan diri.

“Kami berharap dengan adanya penambahan insentif ini, mereka (guru non PNS) bentul-betul ikhlas dalam mengajar dan terus memberikan yang terbaik untuk kemajuaan dan mutu pendidikan,”jelasnya.

Sementara itu, Kabid SD Disdik Sampang Achmad Mawardi menegaskan, idealnya setiap SD harus memiliki minimal delapan guru PNS, karena perhitungan rasio guru dan siswa itu berdasarkan jumlah kelas, dengan perbandingan satu guru PNS mengajar minimal satu kelas dengan jumlah murid 20 anak, yang tanpa guru agama dan kepala sekolah.

Sedangkan untuk SMP perhitungan rasio guru dan siswa itu, mengacu pada jumlah mata pelajaran (mapel). Setiap SMP sekurang mimiliki 16 mapel. Itu artianya, dalam satu sekolah minimal harus mempunyai 16 guru dan dikalikan dengan jumlah kelas.

Mawardi menegaskan, realitas di lapangan, banyak sekolah yang tidak dapat memenuhi rasio tersebut, karena jumlah guru, beberpa dekade terus menyusut, tanpa ada penambahan yang sebanding.

“Untuk SD saja masih kekurangan guru PNS mencapai 1.000 lebih, karena mayoritas SD saat ini, hanya memiliki 3-7 guru PNS,” tegasnya. (sub/waw)

Komentar

News Feed