Ratusan Hektare Lahan Garam Tidak Dikelola, DKP Tetap Optimis Capai Target

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) TIDAK TERKELOLA: Produksi garam di Sampang diprediksi tidak mencapai target karena ratusan hektare lahan produktif tidak dikelola.

Kabarmadura.id/Sampang-Lahan garam produktif tambak garam di Kabupaten Sampang tercatat sebanyak 2.814 hektare. Namun, dari jumlah tersebut masih terdapat ratusan hektare yang tidak terkelola.

Pasalnya, petani enggan mengelola lahan tersebut karena harga garam yang merosot. Hal itu akan cenderung berdampak pada capaian produksi garam tahun ini.

Bacaan Lainnya

Adapun target produksi garam tahun ini sebanyak 290.000 ton. Namun, pada akhir Juli kemarin produksi garam masih terkumpul 1.700 ton. Jumlah ini masih jauh dari target yang ditentukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Kabid Perikanan dan Budidaya Diskan Sampang Moh. Mahfud mengatakan, semangat petani untuk memproduksi garam saat ini berkurang. Salah satu penyebabnya dikarenakan harga garam yang murah, sehingga sebagian petani memilih mogok sementara.

“Lahan produktif di Sampang ada 2.814 hektare, yang tidak terkelola kurang lebih 100 hektare, cuma dengan sendirinya nanti petani akan mengolah jika sudah tidak menemukan pemasukan,” ungkapnya, Kamis (27/8/2020).

Adapun target produksi garam yang dibebankan terhadap DKP Sampang setiap tahun ada peningkatan. Dari target yang ditentukan ia mengaku selalu mampu mencapainya bahkan melebihi. Hal itu dibuktikan, pada tahun 2018 lalu target produksi garam sebanyak 275.000 ton, dan mampu mencapai 344.000 ton.

Kemudian, pada tahun 2019 yang lalu ditargetkan 285.000 ton, mampu mencapai 314.000 ton garam. Sehingga saat ini dirinya tetap berupaya agar produksi garam tetap maksimal seperti tahun sebelumnya.

“Sekarang sudah produksi, akhir juli kemarin sudah produksi 1.700 ton, dan sekarang sudah ada penambahan cuma belum direkap. Dan untuk capai target, kalau kemaraunya panjang insyaallah bisa tercapai,” imbuhnya.

Sementara itu, Forum Petani Garam Sampang (FPGM) Muhammad Yanto mengatakan, masyarakat saat ini memang tidak semangat lagi untuk menggarap tambak garam miliknya. Sebab, ketika dipaksakan untuk memproduksi, mereka akan rugi, karena harga garam murah dan biaya produksi tetap mahal.

“Yang memproduksi hanya yang di pinggir jalan saja. Karena kalau dipaksakan memproduksi pasti hasilnya hanya cukup untuk ongkos,” singkatnya. (mal/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *