Ratusan Pembudidaya Ikan di Bangkalan Gulung Tikar

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) PACEKLIK: Jumlah pembudidaya ikan di Kabupaten Bangkalan mengalami kemerosotan cukup drastis akibat pandemi Covid-19.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN– Jumlah pembudidaya ikan di Kabupaten Bangkalan mengalami penurunan. Dari 250 kelompok pembudidaya, kini turun hingga sekitar 120 kelompok. Salah satu faktor utamanya, akibat pandemi Covid-19. Sehingga, mereka harus gulung tikar. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Bangkalan Mohammad Zaini, Rabu (21/7/2021).

Menurutnya, kondisi saat ini memang membuat pembudidaya ikan tidak bisa berbuat banyak. Sebab, pembelian dan biaya pemeliharaan tidak sebanding akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. “Kalau melihat jumlahnya, itu memang turun, itu yang berhasil kami data,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Pihaknya menjelaskan, jika melihat peluang penjualan dan jenis usaha budidaya yang ditekuni tentu akan membuat para pembudidaya lebih sulit mendapatkan keuntungan. Bahkan, bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) cukup terbatas. “Makanya kalau usahanya masih umum, akan kesulitan bagi mereka (pembudidaya red),” jelasnya.

Mirisnya, tahun ini hanya ada satu kelompok budidaya yang akan mendapatkan bantuan. Yakni, Yayasan As-Sanusy Gelugur, Desa Sen Asen Konang memperoleh bantuan paket budidaya lele sistem bioflok. “Ini pun juga kami sudah mengusulkan banyak, tapi hanya dapat satu,” ulasnya.

Sedangkan bantuan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur (Jatim), ada 3 kelompok. Masing-masing, Pokdakan Si Kumis Hitam Desa Kemoneng, Trageh dengan paket agropolitan lele. Kemudian, Pokdakan Usaha Makmur Desa lembung Paseser dengan paket revitalisasi tambak dan Pokdakan Lele Barokah, Desa Banyuajuh Kamal, berupa paket klaster nila.

“Mereka juga mendapatkan, karena dinilai lebih produktif dan memiliki peluang lebih besar,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Bangkalan Fadhur Rosi, menyampaikan kondisi pandemi memang membuat banyak pengusaha dan pembudidaya memutar pikiran. Sebab, usaha yang digeluti mendapatkan dampak dari pandemi yang tidak kunjung usai. “Masyarakat sudah lesu, jadi wajar jika sangat berharap ada bantuan yang mereka dapatkan,” responnya. (hel/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *