Ratusan Ribu DTKS di Sampang Bermasalah

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FATHOR RAHMAN)

KABARMADURA.ID, SAMPANG – Ratusan ribu warga penerima bantuan sosial (bansos) yang terdata di data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) di Kabupaten Sampang  bermasalah. Kondisi itu, mengakibatkan terhambatnya pencairan sejumlah program bansos. Sedikitnya, terdapat 217. 417 DTKS tidak valid antara Nomor Induk Kependudukan (NIK) di Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan Kartu Keluarga (KK).

Jumlah itu, terdeteksi dari jumlah total DTKS yang mencapai 500 ribu lebih data penduduk. Akibatnya, sejumlah bansos tidak bisa dicairkan oleh ribuan penerima. Baik bansos yang ditangani Dinas Sosial (Dinsos) maupun pihak pemerintah lainnya. Sebab, data penerima bansos berasal dari DTKS.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinsos Sampang Fadeli mengaku, kelimpungan dengan adanya aturan baru dari Kementerian Sosial (Kemensos). Menurutnya, ketentuan pencairan bansos disesuaikan dengan kesepadanan data keluarga penerima manfaat (KPM) dengan DTKS. Sehingga, untuk sementara tidak bisa mencairkan bansos.

“Sekarang mensos memerintahkan bantuan tidak dicairkan selama data tidak sama. Jika ada perbedaan sesedikit apapun antara data KPM dengan DTKS, maka bansos ditangguhkan sementara,” ujarnya, Selasa (6/7/2021).

Pihaknya menjelaskan, sebelum adanya ketentuan baru data acuan KPM cukup pada KK. Namun saat ini, jika satu saja data di dalam satu KK tidak sama, maka bansos tidak bisa dicairkan. Sebab, nantinya akan ditolak secara otomatis oleh sistem. Sehingga, data penerima bantuan tidak bisa dimanipulasi.

“Sekarang keseluruhan nama di KK harus sama. Jika ada perbedaan titik pada nama, ataupun kesalahan huruf pada satu nama di dalam KK sudah dianggap tidak sah dan ditangguhkan sementara untuk memperoleh bantuan,” jelasnya.

Disinggung mengenai langkah Dinsos?. Pihaknya mengaku, sudah melakukan memverifikasi ulang data. Hasilnya, 67 persen data dari jumlah 217. 417 DTKS sudah terverifikasi. “Kami memanfaatkan pendamping program keluarga harapan (PKH) membantu verifikasi data. Sebanyak 218 orang dengan operatornya yang bekerja,” tukasnya. (man/ito)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *