Ratusan Ribu Warga di Bangkalan Tanpa Akta Kelahiran

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) ABAI: Mayoritas warga di Bangkalan mengurus akta kelahiran jika dibutuhkan untuk menempuh jenjang pendidikan.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Kepedulian masyarakat untuk taat administrasi kelahiran di Bangkalan masih cukup rendah. Kondisi itu dibuktikan dengan capaian cetak akta kelahiran. Dari total penduduk 1.080.750 jiwa, hanya 21.800 penduduk yang memiliki akta kelahiran.

Mirisnya, masih ada akta kelahiran lama yang datanya tidak terverifikasi oleh Dirjen Kependudukan. Sehingga tidak terdata oleh pemerintah pusat. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pencatatan Data dan Inovasi Pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Bangkalan Tulsi Hayati, Rabu (20/10/2021).

Bacaan Lainnya

Pihaknya mengaku, capaian cetakan akta kelahiran memang masih jauh dari target. Sebab sesuai keinginannya, semua masyarakat mendaftarkan pembuatan akta kelahiran bagi anaknya. Sedangkan salah satu kendala rendahnya cetakan akta kelahiran, akibat membludaknya data lama yang belum terverifikasi oleh pusat.

“Target kami semua penduduk harus memiliki akta. Tapi saat ini, masih terkendala banyaknya data lama yang sudah dicetak, tapi tidak diproses verifikasi dan validasi data,” ujarnya.

Biasanya yang punya akta merupakan para orang tua yang dulu memang sudah cetak. Sebab setelah beberapa tahun terakhir, semua akta yang tercetak langsung dilakukan proses validasi. Atas dasar itulah, dia berharap agar akta lama yang tidak divalidasi bisa diajukan kembali untuk diperbaharui. Sehingga capaian cetak akta meningkat.

“Jadi mohon untuk diajukan lagi. Yang banyak ini biasanya akta orang tua. Kalau nanti sudah diajukan lagi, akan diproses sesuai prosedur yang berlaku,” jelasnya.

Sementara itu, Warga Desa Galis Bangkalan Badrus Sholeh mengaku, memiliki akta kelahiran yang dulu dicetak. Namun mengenai valid atau tidaknya,  belum diketahui. Sebab tidak bisa melakukan pengecekan. “Mana tau kalau akta saya ini tidak aktif atau tidak valid,” paparnya.

Dia menuturkan, saat ini malah banyak akta kelahiran yang hanya diminta ke kepala desa (kades) atau bidan. Bahkan jika lahirnya ke dukun beranak, kadang tidak diurus. Kecuali jika nanti ingin menempuh jenjang pendidikan. “Biasanya kalau mau sekolah baru diurus, kalau tidak, sepertinya dibiarkan saja,” tuturnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *