Reaktif dengan Status OTG Mengalami Stres

  • Whatsapp
FOTO: KM/IST

KABARMADURA.ID – Keluh kesah pasien yang diindikasikan terinfeksi virus Covid-19 beragam. Selain harus melakukan perawatan tersendiri (karantina mapun isoliasi) mereka, juga mengalami tekanan psikologis karena menunggu kepastian akan status sakit yang dideritanya. Utamanya, menunggu hasil tes Swab PCR AD untuk memastikan terinfeksi virus Covid 19 atau bersih dari virus tersebut.

Mohammad Imron, Bangkalan.

Bacaan Lainnya

AD, inisial pasien yang berasal dari Bangkalan mengaku stres. Hal itu, karena dirinya adalah tulang punggung keluarga yang saat ini sedang menjalani karantina di Gedung Balai diklat. Stres yang dialami AD, selain karena jauh dari keluarga, juga karena dirinya hanya bisa terbaring dan tidak melakukan aktivitas apa-apa karena menunggu hasil Swab PCR miliknya yangs udah lebih dari dua hari belum diketahui hasilnya.

AD menceritakan, dirinya dikarantina karena dinyatakan reaktif setelah menjalani rapid antigen di penyekatan suramadu. AD langsung langsung dibawa ke Balai Diklat oleh tenaga kesehatan untuk menjalani karantina selama 14 hari.

AD juga mengaku sudah dilakukan Swab PCR untuk memastikan bahwa dirinya terinfeksi virus Covid-19 atau bersih. Akan tetapi, meski Swab PCR sudah dilakukan, AD merasa dipermainkan oleh petugas karena terlalu lama menunggu hasil Swab PCR.

“Sepengetahuan kami Swab PCR itu biasanya paling lama nunggu untuk hasilnya itu 1x 24, akan tetapi kami disini beserta pasien lainnya hampir 5 hari menunggu hasil swab tersebut. Kami sampai stres,” kata AD pada,  Kamis (24/6/2021) sambil menceritakan bahwa bukan hanya dirinya, tetapi sebagian besar  warga yang dikarantina dengan status OTG juga merasakan keresahan yang sama.

AD merasa keberatan atas diberlakukan karantina kepada warga yang reaktif swab antigen, karena tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Bahkan apa bila orang tersebut merupakan tulang punggung keluarga maka secara tidak langsung keluarga yang ditinggalkan di rumahnya bisa terancam mati kelaparan karena yang mencari nafkah sudah di karantina.

“Kami memohon kepada pemerintah agar tidak harus memberlakukan karantina kepada seluruh warga yang reaktif berdasar swab antigen. Justru, kami berharap pelaksanaan swab PCR diprioritaskan bagi yang reaktif dengan status OTG. Kasian mereka yang merupakan tulang punggung keluarga. Iya kalau mampu dan punya tabungan kalau tidak, kan bahaya. Makanya sebisa mungkin memberlakukan isolasi mandiri aja,” keluhnya.

Sementara itu, Humas Gugus Covid-19 Kabupaten Bangkalan, Tugas Agus Zain menyampaikan bahwa lambatnya hasil swab PCR dikarenakan banyaknya pasien yang positif dan yang menjalani swab tersebut.

“Sepengetahuan saya kenapa bisa lama menunggu hasil swab tersebut karena banyaknya pasien yang positif. Dan juga yang menjadi kendala dari hasil swab itu tidak langsung valid,” singkatnya. (bri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *