oleh

Realisasi PAD Sampang untuk Pelayanan Olahraga Masih Rendah

Kabarmadura.id/SAMPANG – Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sampang menyebut pendapatan asli daerah (PAD) pelayanan tempat olahraga pada triwulan pertama masih rendah. Pasalnya jumah penyewa masih sedikit dan tidak semua warga yang memanfaatkan sarpras olahraga itu bayar uang sewa.

Data Disporabudpar Sampang menunjukkan, target PAD pelayanan tempat olahraga tahun ini sebesar Rp145.850.000,- Namun hingga saat ini baru terealisasi sekitar 18, 19 persen atau senilai Rp26,525.000,- Perinciannya, lapangan tenis outdoor Rp45.700.000,- realisasi 13 persen atau Rp6.085.000,- lapangan tenis indoor Rp30.000.000,- realisasi 10 persen atau Rp3.250.000,- lapangan bulutangkis indoor Rp48.000.000,- realisasi 29 persen atau Rp13.970.000,-

Selain itu, target PAD pelayanan olahraga lapangan basket Rp825.000,- realisasi 0 persen, lapangan volly Rp825.000,- realisasi 0 persen, lapangan wijaya kusuma Rp10.500.000,- realisasi 1 persen atau Rp185.000,- dan lapangan futsal Rp10.000.000,- realisasi 30 persen atau Rp3.035.000,-

Saat dikonfirmasi, Sekretaris Disporabudpar Sampang Fadeli berujar, rendahnya PAD pelayanan tempat olahraga itu, karena jumlah penyewa sangat sedikit. Sebab tempat olah raga itu hanya disewa manakala ada even tertentu, sedangkan untuk kegiatan latihan dan pembinaan rutin para atlet tidak di sewakan, sehingga pendapatan rendah, kendati tempat olehraga sering dimanfaatkan.

”Pertriwulan I ini, realisasi PAD pelayanan tempat olahraga masih 18 persen, karena tidak semua warga yang memanfaatkan sarpras dimintai uang sewa, tetapi habya disewakan pada waktu even tertentu,”ujar Fadeli saat ditemui diruang kerjanya, kemarin (1/4).

Ia menjelaskan, tingkat pendapatan sarpras olahraga tidak wajib sesuai target yang  ditetapkan dan sebanding dengan besaran biaya pemiliharaan rautin yang dikeluarkan. Pasalnya tempat olahraga ini tidak hanya berorentasi pada private oriented, akan tetapi lebih menitikberatkan kepada pelayanan masyarakat.

Biaya pemeliharan rutin/berkala sarpras olahraga relatif besar, pada tahun 2018 menelan anggaran kurang lebih Rp500 juta. Sedangkan pendapatan yang diperoleh hanya kisaran Rp145 juta. Dana pemeliharaan sarpras tersebut digunakan untuk perbaiki sejumlah sarana, menambah fasilitas olahraga dan honor petugas kebersihan.

”Biaya pemeliharaan rutin ini, sejatinya untuk menjaga kondisi sarpras olahraga agar tetap baik, tidak hanya untuk meraup keuntungan, namun meningkatkan pelayanan, menjaga dan merawat keberadaan aset berupa tempat olahrga bagi masyarakat umum,”kelitnya.

Dengan demikian, Fadeli menegaskan, penetapan target PAD pelayanan tempat olahraga tersebut mengacu pada pendapatan setiap tahun, jika pendapatan tahun sebelumnya mengalami peningkat, maka target PAD bisa dinaikkan. Penetapan target tersebut tidak berpatokan pada besaran biaya pemeliharaan rutin, karena instansinya bukan pihak swasta yang hanya berfikiran keuntungan belaka, tetapi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. (sub/pai)

Komentar

News Feed