oleh

Redam Goncangan Investasi, Bupati Pamekasan Gagas Wisata Syar’i dan Halal

KABARMADURA.ID, Pamekasan –Seolah menjawab tuntutan sebagian masyarakat yang menolak kemaksiatan yang diakibatkan tempat wisata, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam kembali memunculkan wacana pariwisata berkonsep syar’i dan halal.

Baddrut enggan mengomentari kejadian pembakaran Kafe Bukit Bintang oleh massa. Sebab, belum mengetahui kejadian detailnya.

“Saya tidak paham, karena saya tidak paham, saya tidak berkomentar,” ujarnya.

Mengenai perlunya gagasan pariwisata berkonsep syar’i, kata dia, agar denyut pariwisata di Pamekasan terus berjalan. Sehingga, target adanya pendapatan asli daerah (PAD) dari pariwisata tetap tercapai.

Realisasi konsep itu ditargetkan cepat, yakni pada tahun anggaran 2021. Salah satu tujuannya, agar kekhawatiran para investor danmenghindariinvestasi di kabupaten berjuluk Gerbang Salam ini, bisa diredam.

“Sedang kami rancang dan diskusikan, wisata halal itu misalnya memisahkan perempuan dan laki-laki, transakasinya juga halal, modelnya juga halal dan berdasarkan pondasi syar’i,”ungkapnya,Selasa (6/10/2020).

Senada dengan bupati, Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Halili juga mendukung wacana itu. Dengan begitu, peningkatan PAD juga akan berdampak kepada percepatan peningkatan ekomonomi masyarakat.

“Rencana itu sangatlah bagus untuk dikembangkan, asalkan konsepnya jelas, teratur dan dimusyawarahkan secara mufakat,” ujar Halili.

Direktur Nusantara Tourism Center A. Faidlal Rahmanmenyayangkan sikap bupati yang memilih memilih no commentterkait kejadian terbakarnya KafeBukit Bintang. Sebab menurutnya, sebagai pimpinan daerah, sudah sepantasnya bisa memahami, karena kebijakan tertinggi disuatu daerah berada pada kebijaksanaannya.

“Sangat disayangkan sekali sebagai pimpinan gitu lho, karena permasalahan ini sebelumnya pasti ada rentetan kejadian, tidak langsung ujuk-ujuk dibakar, dirusak, dari rentetan sepeti itu mestinya bisa diketahui dengan adanya gejala-gejala,”ungkapnya.

Pakar pariwisata itumemiliki sudut pandang berbeda mengenai gagasan wisata syar,i dan halal, karena pada dasarnya wisata halal yang dia pahami adalah menekankan muslim friendly  (ramah wisatawan muslim).

Sehingga jika diterapkan di Pamekasan, perlu analisis yang komprehensif, agar tidak ada benalu baru dimasa depan.

“Itu yang perlu dipertimbangkan, ingat apakah tidak bertentangan dengan aturan yang diatasnya, kalau Pamekasan dijadikan kota syar’i semuanya, karena Pamekasan tidak memiliki otonomi khusus seperti Aceh,”urainya.

Kandidat doktor ini juga memandang,seharusnya wisata syar’i tidak hanya sebatas dipayuingi peraturan daerah (perda), melainkan kepada aturan yang lebih operasional, yang bisa dijadikan pedoman dan dilegalkan secara langsung oleh bupati.

“Pedoman ini merupakan pedoman teknis operasional parawisata yang syar’i dan halal, misalnya untuk fasilitas hotelnya dioperasikan seperti apa, kemudian restorannya harus diopersikan sepeti apa, kemudian objek wisatanya,”pungkasnya. (rul/waw)

Komentar

News Feed